Si Jenius yang Hidupnya tak Berakhir Manis

Pernah dengar istilah Nervous Breakdown?

Iseng saya membuka buku lama bekas catatan kuliah dulu. Isinya rupa-rupa. Mulai dari info untuk keperluan review film di blog, informasi berbagai tempat menarik sebagai latar cerita fiksi, macam-macam quote, macam-macam resep dll

Di salah satu halaman saya menemukan sebuah catatan yang berbunyi, "W. James Sidis, manusia terjenius abad 20 namun di masa tua menderita Nervous Breakdown (keengganan untuk berpikir lagi). Sepertinya info ini saya salin dari cuitannya @Fakta Google deh!

Saya jadi penasaran siapa James Sidis? Penyakit apa pula Nervous Breakdown itu?

Setelah browsing, wah saya baru tahu kalau ternyata James Sidis ini wajahnya ganteng sekali! *malah galfok! 🙊

Setelah baca sana-sini, terkuak kalau William James Sidis ini adalah manusia paling jenius di bumi. Lahir tahun 1898, tinggal di Amerika yang mana keluarganya merupakan imigran dari Rusia. Kepintaran Sidis kabarnya bahkan di atas Da Vinci, Einstein dan Newton dengan perkiraan IQ di angka sekitar 300. Wahhh!

Doi baru diterima di Harvard umur 11 tahun, padahal sudah didaftarkan sejak dua tahun sebelumnya oleh sang ayah, Boris Sidis, yang berprofesi sebagai psikolog ulung. Kepintaran sang anak sepertinya sudah membuat Pak Boris ambisius. Memaksakan keinginannya sendiri tanpa mempertimbangkan keinginan sang anak.

James Sidis memang sudah terdeteksi cerdas sejak bayi. Saat bayi normal baru belajar duduk atau merangkak, ia sudah bisa menggunakan alat makan sendiri. Bahkan di usia belum genap dua tahun, Sidis Kecil sudah melahap macam-macam berita di New York Times. Kalau kita umur segitu paling masih  ngejar en megangin balon yak? 😂

Kepintaran Sidis membuat ia terkenal dan menjadi buruan media. Konon ada 200 macam bahasa dunia yang dikuasainya. Satu bahasa dipelajari dalam sehari. Usia SD kalau kita masih main engklek dan kelereng, beliau sudah bikin buku astronomi.

Ia lulus cum laude pada saat usia 16 tahun dan lanjut program doktor sambil menjadi asdos di usia 17. Ini justru menjadi petaka, sebab ia dirundung oleh teman kampus yang tak  suka dengan prestasinya. Mungkin semacam perasaan iri dan tidak terima kenyataan kali ya? Masak senior malah dikuliahi ama anak bau kencur sih? Hihihi...

Karier Sidis tamat saat ia ditangkap karena ikut demo Buruh di Boston. Media terkejut saat ia lantang mengecam wajib militer saat Perang Dunia I tengah berkecamuk. Pemuda cerdas itu melakukan hal yang sama sekali di luar dugaan banyak orang. Mungkin dianggap tak pantas, seorang yang dikenal selalu bersikap manis dan cerdas malah berjiwa pemberontak.

Sekeluar dari penjara itulah nama Sidis seakan lenyap dari peredaran.   Bertahun-tahun lamanya ia mengasingkan diri, tak mau dipublikasi hingga akhirnya ditemukan meninggal saat usianya masih 46 tahun sebagai manusia  miskin, tanpa pamor dan terlunta-lunta.

Nah, kondisi Sidis hingga akhir hayat inilah yang disebut Nervous Breakdown alias penyakit kejatuhan mental. Kalau bahasa Melayunya sih patah semangat hidup. Jadi keinginan untuk melakukan aktivitas kehidupan secara normal tuh udah nggak ada lagi. Malas mikir, malas makan, malas ngapa-ngapain  kali ya?

Konon  ini dipicu ketidaksukaan Sidis pada bidang ilmu yang digelutinya yakni matematika. Kok bisa ya? Enggak suka aja bisa sejenius itu, gimana kalau suka?

Pesan moral tulisan ini saya pikir adalah pekerjaan yang dilakukan tidak dengan cinta bisa berakhir menjadi petaka.

Kita bisa lihat sendiri kenyataan di lapangan. Banyak orang yang tak mencintai pekerjaannya alias tak sesuai dengan passion-nya. Mungkin dulu memilih profesi itu karena butuh  daripada nganggur, terpaksa karena tak ada pilihan lain, juga akibat tekanan orang tua yang terlalu menuntut  pada anaknya.

Hm, kalau sudah tak cinta memang susah ya, Gaes! Seperti saya yang sudah cinta dengan dunia tulis-menulis. Sehari tak menulis, pikiran terasa penuh. Ujung-ujungnya mata  malah melotot tak bisa tidur. Tapi kalau sudah tidur, suka lupa mau nulis!

Hegas, Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik