Pilih Mayor, SP atau Indie?

Setelah mengetahui sedikit tentang dunia penerbitan, membuat saya jadi paham bahwa perkara menerbitkan buku tak semudah yang pernah dibayangkan sebelumnya. Buku yang sudah terbit bukan akhir dari segala perjuangan setelah berlelah-lelah menulis naskah di dalamnya. Namun ada yang lebih penting dari itu, yakni keberlanjutan nasib dari buku itu sendiri. 



Duluuuu sekali, melihat buku kita terbit meski secara keroyokan alias berbentuk antologi di penerbit indie, senangnya bukan main. Padahal naskah kita cuma nyempil sehalaman dari ratusan nama kontributor wkwkwkwk. Seiring waktu, standar kepuasan rupanya meningkat. Sepertinya menerbitkan buku sendiri lebih menantang. Malu juga sih diledek senior begini, "Antologi mulu, kapan solonya?" *gigitknalpot

Pertanyaannya, calon buku solo kita mau diterbitkan di mana?  Diajukan ke penerbit mayorkah? Atau dibukukan secara self publishing? Atau mengajukan naskah ke penerbit indie dan diterbitkan secara gratis meski dengan cetakan ala kadarnya? Hehehe


Saya sedang tidak memandang sebelah mata ke indie label loh. Ada kok penerbit indie yang taste-nya 
mayor, entah dari penampakan tata letak, desain kaver maupun cita rasa genre dari naskah yang diterbitkan. Namun tak menutup mata juga bahwa banyak penerbit abal-abal yang terkesan asal cetak buku penulisnya. Yang penting orderan cetak masuk! Murni bisnis.


Tiba-tiba ada yang nanya, "Mbak, bedanya nyetak di mayor, indie ama SP apa sih?"

Sebagai penulis, sebaiknya memang mengetahui serba sedikit ilmu tentang penerbitan ya? Bukan apa-apa. Sebagai tindakan preventif aja biar nggak tertipu event-event menulis abal-abal. Entah karena dipungut bayaran di luar kewajaran, maupun dengan syarat wajib membeli buku yang diterbitkan. Dengan mengetahui mekanisme menerbitkan buku itu seperti apa, kita bisa memahami berapa sih sebenarnya biaya buat nerbitin buku tuh, serta biaya-biaya apa aja yang menyertainya.

Kalau sudah mengerti, kita jadi paham apa risiko dan konsekuensi yang mungkin terjadi jika buku kita nanti terbit entah secara mayor, SP maupun indie.

Buku terbit secara mayor artinya naskah  kita diajukan lalu diterima atau dilirik oleh penerbit besar dan didistribusikan ke tokbuk yang bekerjasama dengan penerbit ybs di seluruh Indonesia. Karena diterima/dipinang, tentu segala hal mengenai proses penerbitan ditanggung oleh penerbit. Mulai dari menyediakan desain kaver, penyunting, tata letak serta ilustrasi yang mungkin diperlukan untuk menunjang tampilan naskah. 

Semua proses ini gratis. Buku juga dicetak dalam jumlah besar. Penulis tinggal nunggu buku terbit, promo, lalu menerima royalti (kalau ada yang beli). Royalti penulis biasanya 10% dari harga buku. Tergantung ketentuan penerbit. Kalau tak ingin menunggu royalti, bisa mencetak naskah dengan sistim jual putus. Tapi naskah menjadi sepenuhnya milik penerbit. Kita tak bisa menikmati keuntungan jika naskah tersebut mengalami cetak ulang, best seller hingga difilmkan. Biasanya kesepakatan-kesepakatan antara penulis penerbit seperti ini diatur dalam surat perjanjian.

Buku yang terbit mayor jarang yang murah. Jadi ya bisa dihitung sendirilah berapa pendapatan penulis sebenarnya. Kalau ingin kaya dari menulis buku ya harus produktif banget macam Tere Liye. Kalau nerbitin buku satu biji trus langsung pengen ongkang-ongkang kaki nungguin royalti, bisa-bisa dimasakin bubur kertas ama bini di rumah, wkwkwkwk

Terbit indie sama saja dengan mayor. Bisa lewat pengajuan, bisa juga karena dipinang. Hanya saja indie label skala cetaknya lebih kecil. Biasanya dicetak sesuai order yang masuk. Distribusi ke toko buku juga lebih terbatas. Ada sistim royalti juga. Besarannya pun tergantung kebijakan penerbit ybs. Penerbit indie ada yang pengalaman dalam dunia penerbitan, ada yang enggak. Jadi harus pandai-pandai menilai dan menjatuhkan pilihan.

Untuk self publishing sendiri, bisa di penerbit mayor maupun indie. Dua-duanya tak gratis, alias penulis harus merogoh kocek sendiri untuk biaya cetak buku serta hal lainnya seperti editing, layout, cover dll. Biasanya ada paket-paket tertentu  yang diberikan oleh penerbit dengan harga variatif sesuai jasa yang disediakan.

Nah, mau pilih terbit mayor, self atau indie publishing? Apa pun pilihannya, semua ada kekurangan dan kelebihan ya? Terbit mayor mungkin menggiurkan. Tapi kita harus siap-siap dengan seribu penolakan. Sebab naskah yang dipilih untuk terbit juga bukan naskah sembarangan. Selain tema yang diusung memang menarik dan sedang dicari, naskah kita juga harus spesial. Makanya ada kolom untuk mencantumkan kelebihan naskah pada form pengajuan di  penerbit mayor. Berikut strategi marketing dan rencana promosi juga harus disertakan. Intinya mereka nggak mau menerima naskah yang nantinya bernasib zonk!

Kalau terbit mayor, selain gratis, potensi pembaca kita jadi lebih luas. Tapi kalau buku kita tak laku, siap-siap saja menerima kenyataan, buku kita tersisih dari rak buku baru, lalu disimpan dan berdebu di gudang untuk kemudian dijual murah.

Kalau ingin keuntungan signifikan, bisa pilih jalur SP. Namun ya harus dibarengi dengan strategi jualan dan promosi yang jitu juga. Enaknya jalur SP itu semua kendali atas buku yang terbit ada di tangan kita. Mau dijual sekian, covernya begini, isinya begitu, suka-suka yang punya duit hihihi...

So, mau nerbitin  buku di mana? 
Aihhh, novelnya kelar aja belom! Wwkwkwk

Gang Pinus, Oktober 2018 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik