Penulis versus Pembaca Cerdas

Kata mentor saya di sebuah grup kepenulisan, saat menulis cerita, posisikan pembaca sebagai pembaca yang cerdas, dalam artian mau mikir secara tepat, kilat dan nggak banyak tanya dalam memahami cerita yang disuguhkan.

Kalau dalam film tuh biasanya ada adegan tanpa dialog ya? Misal ada gambar mata depresi di kamar mandi, kran mengucur, kemudian ada bungkus silet di wastafel lalu  penampakan darah mengalir. Tanpa dinarasikan pun penonton tahu apa yang terjadi. 
Jadi kalau masih protes kenapa si tokoh tahu-tahu sudah di peti mati, penonton kek gini mending dikulkasin aja sih! Biar makin  beku, wkwkwk

Nah, kalau pembaca cerdas tuh seperti apa sih?
Dalam memahami konstruksi cerita yang kita buat, mereka tidak manja, tak butuh banyak detail, tak menuntut lanjaran serta deskripsi yang teramat telanjang dan benderang. Jadi tak perlu narasi bertele-tele yang menjelaskan detail kejadian secara rinci dan gamblang.
Readers like this know the story so well. Althought tiniest hidden clue we put in the different part of story, will make them said, "Owh, i see!"
Bagaimana menempatkan pembaca di posisi pembaca yang cerdas ini?
Saya pikir salah satunya adalah dengan TIDAK mencantumkan POV tokoh-tokohnya di awal naskah. 
Sukab's POV
Alina's POV
Sipon's POV
Trijoko's POV
dll.

Saya belum pernah sih baca novel dengan keterangan sudut pandang seperti di atas. Tapi anehnya penulis cerita bersambung zaman now sering sekali melakukannya. Terlalu memanjakan pembaca.
Mungkin ini dilakukan agar ceritanya mudah diikuti dan tak kehilangan pembaca kali ya? Bisa jadi juga sengaja dieksplor buat menambah durasi cerita biar jadi banyak part-nya. 
Saat saya berisau-risau lewat status tentang hal ini, menurut teman-teman yang komen, cerita-cerita di salah satu situs baca daring banyak yang begini. Author-nya hobi menulis POV tokoh di awal naskah. Kalau ada 10 tokohnya, ya ada 10 juga sudut pandangnya!

Jujur saja, bagi saya ini jadi kurang menarik. Tak  ada tantangan. Terlalu mudah dimengerti. Akibatnya saat cerita usai dibaca, gaungnya  menguap begitu saja. Mudah dilupakan. Tak ada rangsangan untuk membaca ulang.
Lagi pula, menulis satu cerita dengan perspektif tokoh berbeda-beda saya pikir tak mudah juga. Karakter yang kita bangun untuk setiap tokoh harus benar-benar kuat jika tak ingin gagal dan berakhir dengan narasi yang seragam.
Satu karya multiperspektif yang paling membuat saya lelah dan frustrasi adalah novel Orhan Pamuk yang  dibeli dua tahun lalu, namun sampai sekarang tak jua berhasil dikhatamkan!🙈


Bagaimana dengan penulis cerdas? Nah, penulis begini justru kebalikannya. Mereka malah menyembunyikan lanjaran serapi mungkin sehingga membuat pembaca terkecoh. Penulis mampu menulis sebuah cerita yang berakhir dengan twist ending  sempurna, dan  membuat  pembacanya merasa dibodohi.
Namun  perasaan dibodohi di sini justru bersifat satisfied ourself. Pembodohan yang menyenangkan. Yang membuat kita malah memuji penulisnya habis-habisan.
Menjadi pembaca cerdas atau penulis cerdas, dua-duanya kudu banyak latihan. Salah satunya ya tentu saja dengan banyak membaca. Kualitas bacaan pun sangat mempengaruhi kualitas cerita yang dihasilkan.
Trus, yang nulis ini udah cerdas belum?
Maaf ya, saya cuma penulis amatiran merangkap pemerhati sastra koran pembungkus cabai dan bawang.🙊

Gang Pinus, Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik