Gara-gara Benda Itu, Saya Sering Dianggap Belagu

Ada satu benda yang tak boleh ketinggalan jika saya bepergian. Ketiadaannya dijamin membuat saya uring-uringan. Belum apa-apa sudah terbayang efek yang bakal dirasakan kemudian. Kepala sakit. Bagian alis terasa tebal dan berdenyut-denyut. Belum hilang jika mata tak segera diistirahatkan alias tidur secepat mungkin.

Benda apa itu?

Yep, kacamata hitam.  Ini satu benda yang wajib menemani jika bepergian di siang hari. Kadang cuma ke blok sebelah saja saya sibuk mencari kacamata yang kadang lupa disimpan di mana.

Yang paling enggak enak kalau pas pergi pakai angkutan umum. Saya pulang mengajar biasanya di atas jam 10 saat cuaca dan udara sedang panas-panasnya. Begitu keluar pagar sekolah, biasanya kacamata langsung saya pasang. Pesan ojol dan segera meluncur ke perempatan Jl.Jarakosta dan Kalimalang. Menunggu koasi 61 yang ke arah Tegal Gede/Jababeka.

Sayangnya, Koasi 61 di jalur ini enggak setiap menit lewat. Biasanya 10 menit sekali. Proses menunggu inilah yang kadang menyiksa jika saya tak berbekal kacamata. Panas dan debu cuy!

Nah, begitu naik angkutan umum, adalah pemandangan yang sedikit 'aneh' jika sudah di dalam tapi kacamata hitam tetap bertengger di hidung.

Awalnya memang terasa kikuk sih. Tak satu dua penumpang yang 'perhatian'. Mungkin dikira belagu banget kali ya, timbang ngangkot aja gayanya selangit. Wkwkwk

Kalau melihat reaksi seperti ini, biasanya kacamata saya lepas. Namun, tetap saja mata harus memicing dan jidat berkerut jika ingin melihat ke luar. Kening yang mengerut karena menahan serbuan cahaya matahari secara terus-terusan membuat kepala pusing.

Kalau sudah begini, begitu sampai di rumah saya tak berkutik. Kadang langsung tergeletak di karpet depan TV demi meredakan sakit kepala yang mendera.

Semua derita ini baru berkurang jika mata segera diistirahatkan alias dibawa tidur.  Meskipun cuma sebentar, efeknya lumayan meredakan.

Kini, saya sudah tak peduli dengan reaksi orang lain. Toh, saya berkacamata hitam tidak 100% buat gaya-gayaan. Saat saya sakit kepala, memangnya mereka bisa bantu apa?

Kadang kalau sedang di asrama Nay sering protes  juga sih. Katanya malu, cuma ke koperasi aja bundanya selalu dengan tampilan kacamata hitam. Habis mau gimana lagi? Saya juga enggak mau seperti ini🙈

Untuk menyiasati, sekarang selain kacamata hitam, saya sedia masker juga. Peduli amatlah dengan mereka yang rese. Mau dicap belagu, atau sok keren, terserah. Daripada efeknya membuat saya lebih menderita.

Jadi, sekarang udah enggak heran kan ya kalau melihat foto saya kebanyakan pakai kacamata hitam?😆😉

Gang Pinus, 19 Oktober 2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik