Yang Terjadi Ketika Penggila Fiksi Menulis Nonfiksi

Awalnya saya berencana ingin menulis buku fiksi. Dua cerita fiksi anak sudah saya siapkan sebagai ancang-ancang untuk dikirimkan ke panitia sayembara bacaan anak yang diadakan Mendikbud dalam rangka Gerakan Literasi Nasional 2018.

Mengabadikan kota kelahiran dalam sebuah buku itu ternyata membahagiakanšŸ˜

Namun setelah mengikuti kelas online bacaan anak yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena beberapa
minggu lalu, tiba-tiba menulis buku nonfiksi terasa lebih lancar bagi saya.
Ketik-ketik, nanya sana-sini sebagai referensi dan bahan tulisan sekaligus riset, naskah 52 halaman tau-tau sudah selesai. Wuihhh, semudah ini?

Tinggal menambah foto-foto sebagai ilustrasi, berikut kaver, kata pengantar, daftar isi dan biodata penulis. Naskah siap dicetak.

Cukup anak sendiri   dan anak tetangga yang jadi model ilustrasinyašŸ˜‚

Rupanya saya belum pede. Maklum, ini kompetisi tingkat nasional. Pengalaman saya masih fakir sekali. 

Akhirnya naskah yang baru setengah jadi tadi saya kirim untuk di-review dulu dengan pembimbing di kelas, seorang senior di FLP yang berdomisili di Makassar sana. Respons beliau, sudah oke. Baiqlah! Saya semangat lagi!

Sekadar info, ini pengalaman pertama saya menulis buku nonfiksi secara solo. Saya mengangkat tema lanskap yakni tentang permainan tradisional Sambas, tanah kelahiran saya. 

Setidaknya ada 33 permainan yang bisa dikumpulkan. Sebenarnya masih banyak lagi. Hanya saja, saya tak punya cukup banyak waktu lagi untuk riset. Permainan yang saya tulis kebanyakan yang pernah saya mainkan saat kecil dulu. Jadi yang dikuasai saja.

Hari ini buku itu sudah dikirim. Saya titip lewat suami untuk mengeposkannya siang nanti. Saya lepas dia dengan sepenuh hati. Buah pikiran yang saya asuh selama lebih dari sebulan ini. Mirip kisah Malika, si kedelai hitam yang beruntung karena sudah dirawat seperti anak sendirišŸ˜‚

Semoga ia diterima dengan sukacita. Sebagai satu bentuk sumbangsih saya buat anak-anak Indonesia, agar tak melupakan permainan tradisional yang ikut membesarkan orang tua mereka di masa lalu. Sejenak melupakan keasyikan bermain gawai dengan games-games yang kadang membuat anak-anak kita lupa segalanyašŸ˜µ

Hegas, 02 April 2018





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik