Bersama Mereka Tiga Jam Masih Kurang!

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.56 saat saya turun dari angkot 61 di perempatan arah Jarakosta-Warungbongkok- Kalimalang. Sudah pasti telat ini. Kelas seharusnya dimulai empat menit setelahnya. Saya diminta mengisi kelas menulis untuk murid Mts dan MA Ponpes Darul Fikri di daerah Warung Bambu, Telaga Murni.

Foto: Adam Darul Fikri

Ini benar-benar kesan pertama yang buruk๐Ÿ™ˆ Padahal dari rumah belum jam tiga saya sudah berangkat Sebelum irigasi, sepanjang Kalimalang mobil sudah terlihat berderet-deret karena macet. Entah apa sebabnya.

Saya putuskan naik ojol. Sayang si abang juga kurang paham jalan๐Ÿ˜‚
Akhirnya saya baru tiba di lokasi pukul empat lewat sepuluh menit. Mana belum sholat pula๐Ÿ™ˆ

Saya pun minta izin pada Mas Adam selaku penangung jawab di sana untuk sholat sebentar bersama sahabat seangkatan di FLP Bekasi, Arfah. Akhirnya tepat pukul setengah lima kelas baru bisa dimulai.

Ada 7 ikhwan dan sekitar 20 akhwat yang mengikuti kelas menulis ini. Info awal yang saya terima sih mereka butuh ilmu kelas fiksi terutama cerpen. Namun saat saya konfirmasi, rupanya hanya sebagian saja yang suka fiksi. Sisanya lebih tertarik materi jurnalistik.

Setelah perkenalan, sebagai pemanasan saya langsung memberi tugas menulis alias langsung praktik. Tugasnya hanya menulis tiga paragraf alasan mereka mengikuti kelas nulis bersama saya hari ini. Hal ini saya lakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan teknis dan nonteknis mereka dalam menulis.

25 menit  berlalu. Tugas pun selesai, lalu dikumpulkan dan dikoreksi satu-satu. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, sebagian besar anak-anak ini masih belum paham bagaimana teknis menulis yang benar. Kesalahan umum yang dilakukan di antaranya penempatan huruf kapital yang tidak tepat, banyak penyingkatan kata, penggunaan kata yang tidak baku, typo serta penulisan titik koma yang belum rapi.

Kelas dijeda Maghrib. Usai sholat anak-anak masih antusias mengikuti pelajaran. Oke, kali ini saya memberi permainan tentang pemilihan kata baku sesuai KBBI. Ini selalu saya lakukan di awal kelas menulis, sebab kesalahan penggunaan kata yang tak baku sering kali dilakukan bahkan oleh penulis tenar sekalipun. Masih ingat kan buku Pak Basuki Tjahaya Purnama yang jelas-jelas tercantum kata 'merubah' pada kaver bukunya?๐Ÿ™ˆ

Games berakhir dengan hasil ada dua murid dengan kesalahan lumayan banyak. Dua-duanya mendapat tugas membuat puisi spontan dan mendeklamasikannya. Kelas pun gaduh dengan gelak anak-anak. Merasa lucu dengan isi puisi yang dibacakan teman-temannya.

Isya berkumandang. Mas Adam meminta kelas dilanjut saja sampai pukul delapan. Baiklah. Saya lanjut dengan materi tentang cerpen, baik pengertian maupun jenisnya. Setelahnya diadakan tanya jawab. Beberapa siswa bertanya tentang novel, nasib buku di tokbuk, dan seluk-beluk penerbitan.

Sayang sekali waktu habis. Padahal materi belum tuntas benar. Unsur instrinsik dan ekstrinsik cerpen tak sempat diberikan. Tepat pukul 20.27 saya pamit pada semua guru dan murid yang tersisa di kelas.

Meski pulang berhujan-hujan, saya bahagia sekali karena melihat seisi kelas menyerap ilmu setitik yang saya punya dengan penuh antusias dan bahagia.๐Ÿ˜

Semoga bisa bertemu kembali ya?๐Ÿ˜‡

Hegas, 07 April 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik