Permainan Tradisional yang Terlupakan

Beberapa hari yang lalu saya berinisiatif mengumpulkan anak-anak sekitar rumah untuk bermain bersama. Permainan yang saya pilih berasal dari Sambas. Selain ingin memperkenalkan permainan dari kampung halaman sendiri, ini saya lakukan sebagai pengobat rindu akan masa kanak-kanak dulu.

Anak-anak  Gg. Pinus antusias sekali saat main Lemlemtak

Seru sekali melihat anak-anak begitu antusias main Cik-cik Periok, Lemlemtak dan Juju Binyak. Apalagi saat melakukan osom, mereka begitu antusias seperti menemukan hal baru sebab selama ini cuma tahu kata
itu lewat tayangan anak dari negeri jiran, Upin-Ipin.

Di sisi lain, saya merasa sedih juga mengingat betapa permainan tradisional kini sudah sangat jarang dimainkan generasi zaman now. Selain tergerus permainan modern berbasis teknologi aplikasi di gawai yang dimiliki anak-anak, sarana pendukung untuk memainkan permainan yang ada juga sulit ditemui. Misalnya keberadaan tanah lapang atau halaman yang agak luas.

Apalagi lingkungan tempat tinggal saya merupakan perumahan bersubsidi, di mana tak semua anak memiliki kesempatan  bermain di halaman rumah yang luas.

Hal serupa rupanya juga terjadi di kampung halaman saya. Derasnya arus pembangunan membuat ruang bermain anak semakin sempit saja. Tanah lapang sudah disulap jadi ruko. Halaman rumah kini berbatas pagar tinggi dengan tetangga kanan-kiri. 

Berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan saya saat masih kecil dulu. Masih banyak lapangan berumput untuk bermain bola, main kejar-kejaran atau sekadar berkumpul bersama teman-teman sebaya. Halaman masing-masing rumah masih menyatu hingga kami bebas bermain dari ujung ke ujung. Sungai tempat mandi dan bermain juga masih bening. 

Semoga suatu saat nanti permainan tradisional kembali menguasai dunia anak-anak ya? Meski terdengar mustahil, jika dilakukan dengan penuh kekompakan dari semua pihak yang terkait, saya rasa ini bukan satu angan-angan kosong. 

Sumbangsih saya sendiri, mungkin akan mengabadikan permainan tradisional ini lewat buku! Doakan saja ya?

Hegas, Maret 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik