Ketika Kritik Berujung Duit

Awalnya saya hanya dipercaya sebagai pembedah karya teman-teman di kelas fiksi FLP Bekasi. Karya yang dikritisi sebagian besar hanya bersifat teknis saja. Sampai-sampai saya dianggap sebagai Polisi KBBI dan PUEBI yang gemar menilang setiap ada pelanggaran teknis pada naskah teman😂. Hingga saat pembuatan antologi, saya akhirnya dipercaya sebagai editor untuk tiga judul buku. 

Karya yang sempat diabadikan

Hasil editan pertama jujur saja masih banyak yang tak sempurna. Saya
belajar lagi.  Hasil editing yang kedua. Lumayan dari yang pertama meski teteup masih kelihatan amatirannya😂😃😃

Nah, untuk buku ketiga, saya benar-benar menyingsingkan lengan baju( haalaah). Dalam artian, saya enggak mau kecolongan lagi. Buku cara mengedit naskah dan artikel yang berkaitan saya cari dan pelajari. Sepertinya saya mulai jatuh cinta dengan dunia baru ini.

Saya enjoy aja saat harus membaca naskah secara khusyuk dan berulang. Kadang jadi kurang tidur karenanya. Yang dipindai tak hanya masalah tanda baca, huruf kapital dan kesalahan penulisan dialog. Namun jalan cerita, logika, dan keselarasan kalimat dll juga ikut saya beri masukan untuk bahan revisi.

Hasilnya memang lebih baik dari dua buku sebelumnya. Buku ketiga ini yang membuat saya diundang ke Radio Dakta untuk keperluan promo baik sebagai penyusun merangkap editor sekaligus pembimbing para kontributornya.

Untuk seterusnya saya dipercaya membantu editor sebuah penerbit yang khusus mengeluarkan novel sastra serta buku penulis lain yang diterbitkan secara self publishing. Dan yang ini dibayar secara profesional tentunya.

Ternyata ada hikmah dan berkahnya juga ya ketika kita rajin mengkritisi karya orang lain. Asalnya hanya berniat membagi ilmu, ternyata Allah membuka pintu rejeki saya di jalan ini.

Benar-benar asyik, ketika kritik-kritik kita bertransformasi jadi duit😄

Hegas, Juni 2017



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik