Debat Pasutri


#shortstory

Kendaraan roda dua itu terus melaju di melintasi kami. Duduk di atasnya seorang ibu muda berbaju hitam dan celana jeans ketat dengan masker kartun menutup sebagian wajahnya. Cardigan merah yang ia kenakan ujungnya melambai membuat jantung saya melompat-lompat. 

"Kayaknya bakal masuk roda deh tu baju!"

"Enggak!" jawab suami pede.

"Iya! Liat aja tuh, ujung bajunya panjang gitu!" bantah saya sewot.

"Gak sampe roda kok!"

Saya memperhatikan kembali dengan saksama. Nampak si ibu membetulkan posisi duduknya.

"Ayo, Han! Cepet jejerin! Mo ngasi tau, biar bajunya gak masuk roda."

Namun, sedetik kemudian, motor matik dengan stripe biru muda itu justru melaju lebih kencang sehingga kami tertinggal di belakang. Ujung cardigan-nya makin membuat hati tak karuan. 

Tak lama sesudahnya, di pertigaan sana, terdengar suara teriakan  diiringi bunyi benturan keras. Kendaraan di sekitar kami otomatis berhenti. 

"Tuh kan, Bunda bilang juga apa!" 

Perlahan saya turun dari kendaraan dan berlari menuju arah suara. Keponya kumat.

Benar saja. Si ibu muda tadi nampak sudah duduk di aspal sambil memegangi tubuhnya yang lecet.
Nampak dua motor rebah saling berdekatan. Terlihat juga seorang pemuda yang kesakitan memegangi tangan kanannya. Beberapa orang terlihat sigap membantu keduanya.

"Kenapa, Pak? Baju si ibunya masuk roda ya?" tanya saya pada pengendara yang tepat berada di depan kejadian.

"Enggak, Mbak. Biasalah emak-emak naik matik. Ngesen ke kiri beloknya ke kanan!"

"Owh!"

Saya pun ngeloyor pergi. Sukurin!😂😛😜

#sebagian fiksi

Hegas, Maret 2017




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik