Romantika Salak, Tomat hingga Soto Babat

Saya sudah lupa tahun dua ribu berapa tepatnya terakhir bertemu Mbak Etik. Dulu doi adalah orang yang bertanggung jawab mengenalkan saya pada suami. Mbak Etik terakhir bekerja di perusahaan yang sama dengan Si Akang.  Kami satu kamar kontrakan, jadi dia sudah seperti kakak sendiri. Suatu ketika ada keperluan darurat, ia mengajak saya ikut ke suatu tempat yang membuat saya jadi tahu dan kenal dengan Akang yang tinggal di kompleks yang sama namun belum pernah bertegur sapa. Sayang, saat perusahaannya collaps, Mba Etik memilih pulang ke Yogyakarta dan menikah dengan pria pujaan hatinya di sana.

Tinggal nunjuk, langsung diambilin! ^_^
 Begitu sampai di rumah kami langsung berbincang hangat. Terlalu banyak cerita yang ingin
dikabarkan sehingga tema obrolan kami jadi melompat-lompat. Mbak Etik tinggal bersama ibu mertua sebab suaminya putra pertama sementara dua adiknya sudah mempunyai rumah sendiri.
Saat melihat rambutan Binjai di depan rumahnya, saya langsung ngiler—teringat asinan rambutan yang dibuat kemarin. Di Cikarang, rambutan sedang gagal panen. Jadi, tak seperti biasanya, jarang sekali yang menjual buah berambut ini. Kalau ada juga harganya sangat mahal.

Lihat kebunnya, penuh dengan tomat! :D
 Mba Etik juga mengajak saya ke kebun tomat, membuatkan jus, mengepak salak berukuran jumbo dalam kardus sebagai oleh-oleh, juga mengantar membeli bakpia pathok request suami.
Di rumah ini saya juga berkenalan dengan suaminya, ibu mertua dan dua anaknya. Bahkan ibu mertua doi, dengan sigap mengambil buah rambutan yang masih di pohon sebagai bekal saya di perjalanan nanti. 
bertemu lagi setelah berbelas tahun itu, benar2 sesuatu....:)
 Kadang hal-hal sepele macam inilah yang membuat saya merasa rindu dan betah berada di kampung orang, terutama yang tinggal di desa-desa. Besarnya rasa penerimaan membuat kita merasa nyaman, meski mereka bukanlah saudara kandung atau famili jika ditilik secara kekerabatan. Akan terasa beda jika bertandang ke rumah orang-orang yang telah lama berdiam di kota-kota besar nan individualis. Meski enggak semua orang kota begitu sih! Jika pernah merasakannya, Anda akan mengerti maksud saya!
Tak terasa waktu akhirnya bergeser juga. Bus yang sudah dipesankan oleh Mbak Etik akan berangkat pukul tiga sore. Setelah mandi sekitar  jam dua, keluarga kecil ini mengantar saya ke titik jemput. Sebelumnya mereka mentraktir saya makan soto babat dulu. Soto yang enak, namun tak saya habiskan karena kadung stress bakal menghadapi perjalanan jauh sendirian.
Semoga suatu hari saya bisa berkunjung ke kota ini lagi! Tentu saja bersama Nay dan suami! ^_^

Hegas, 31 Januari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik