Penulis Bahagia dan Membahagiakan Orang Lain

Ada seorang penulis. Ia sibuk menulis saja, lalu dikirim ke penerbit. Saat naskahnya diterima ia bersuka cita. Saat naskahnya ditolak, ia kembali menulis. 


Saat bukunya diterima dan naik cetak, ia berpromosi sekuat yang ia bisa. Lalu menunggu bagaimana takdir bukunya berjalan. Apakah berujung manis, berbaris di rak best seller toko buku terkenal. Atau
hanya nampang sebentar di rak buku baru, lalu melayang di rak buku paling bawah di sudut toko, untuk kemudian dilempar ke rak belakang dan akhirnya berakhir di gudang.

Tragis ya? Memang realitanya seperti di atas kalau jadi penulis di Indonesia. Anehnya, banyak sekali yang mencita-citai diri dengan profesi ini.

Sejatinya, entah buku yang mereka tulis itu laris atau tidak, penulis yang begini ini yang orientasinya tak semata materi, sudah berbahagia saat karyanya dibaca orang lain. Meski yang baca itu mungkin cuma ibunya, teman sekolahnya, tetangganya, tukang nasi uduk langganannya, dll. 

Jika menulis sekadar untuk memikirkan royalti, mungkin bahagianya hanya sebentar. Dunia perbukuan ternyata begitu kejam, Kawan! Saat mengikuti Kampus Fiksi kemarin, secara blak-blakan Pak Edi mengatakan bahwa menulis jangan sampai jadi sandaran pekerjaan utama, khususon di Indonesia. Kecuali jika kita sudah punya nama besar bersinar, yang jika ngirim naskah ke koran, membuat nama-nama pendatang baru berguguran bak laron dalam air di baskom! Nah, bahkan pemilik nama besar juga butuh uang toh? Kalau tidak, untuk apa mereka menjajakan naskahnya di koran-koran? Cuma menguji eksistensi dirikah?

Memang benar juga sih! Asma Nadia yang sudah ngetop saja masih menekuni usaha lain, tak melulu nulis buku. Beliau jualan tas, jualan jilbab ama baju. Tere Liye juga seorang akuntan. Nur Arafat ngakunya selain nulis ia nyambi jadi kuli bangunan. Weleh...

Tapi, meski begitu, deretan penulis yang saya sebut di atas adalah penulis-penulis yang bahagia. Mereka menulis dengan cinta, menerbitkan buku dengan perasaan bahagia, lalu tulisannya membahagiakan orang lain. Saya rasa itu lebih berarti ketimbang memikirkan royalti yang besarannya tak pasti.

Jadi, menulislah, dan skripsi tetap yang utama dikerjakan buat mahasiswa. Menulislah, namun kalau Anda karyawan ya tetap masuk kerja meski harus bercumbu dengan kemacetan. Menulislah, dan tetap mandi, sisiran, pakai baju dan celana seperti biasa meski cintamu ditolak sambil meludah oleh gadis manis tetangga sebelah. Menulislah, disambi memasak dan mengerjakan urusan rumah tangga bagi ibu-ibu yang suka nulis macam saya, hehehe...

*ditulis dalam keadaan belum mandi 

Hegas, Feb 17

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik