Ini yang Terjadi Setelah Kampus Fiksi Berakhir

Hari Senin, pukul tujuh pagi saya sudah selesai berkemas-kemas.  Rencananya setengah jam lagi saya akan berangkat ke Terminal Jombor untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Tempel.
Rupanya Mas Agus--sopir yang bertugas mengantar kami--masih tidur dengan nyenyaknya. Dengan bantuan Mas Reza Nufa, akhirnya beliau bisa dibangunkan. Sebenarnya enggak tega sih, sebab semalam setelah penutupan acara, sebagian penghuni asrama memilih begadang hingga pukul dua dinihari.
Stasiun Tugu
 Setelah berpamitan dengan penghuni asrama Kampus Fiksi yang sebagian masih tinggal menanti jadwal pulang, saya dan Mbak Ary pun meluncur menembus Jalan Wonosari, Yogya. Lalu
lintas relatif lancar. Sepanjang jalan Mas Agus bercerita tentang segala hal. Mulai dari sejarah ia bekerja di Diva Press, bagian-bagian produksi yang pernah ia tangani, omzet perusahaan hingga cerita-cerita seru yang terjadi selama Diva Press berdiri.
Tak sampai setengah jam, kami akhirnya tiba di Stasiun Tugu. Di sini perhentian terakhir untuk Mbak Ary. Doi lebih memilih kereta dibanding pulang pakai bus. Kami pun berpamitan. Semoga lain waktu bisa ketemu lagi ya, Mbak? ^_^
 Perjalanan dilanjut ke Terminal Jombor. Awalnya saya pikir peserta boleh diantar ke mana saja setelah Kampus Fiksi selesai. Rupanya peraturan yang berlaku adalah peserta hanya diantar cukup hingga stasiun, terminal atau bandara yang telah ditetapkan saja. Tak lebih! Its OK! Saya kebetulan juga ingin tahu seperti apa transportasi di Yogya.
Pukul 08.25 WIB kami tiba di Terminal Jombor. Berkali-kali saya berterima kasih sekaligus minta maaf sebab tadi harus membangunkan Mas Agus yang pasti masih mengantuk, demi bisa mengantarkan kami ke sini. Saya langsung menyeret koper ke pintu masuk terminal. Nampak bis ¾ ngetem dalam keadaan kosong. Ada bus-bus lain di belakangnya namun sepertinya itu  bukan jurusan yang saya tuju. Sebenarnya ada taksi sih dua unit yang ngetem di pinggir jalan. Tapi, saya masih ingin merasakan naik angkutan umum. Belum pernah soalnya, hehehe...
Beberapa bapak langsung merubungi saya. Saya menanyakan bus yang menuju ke arah Magelang atau Borobudur. Tapi sebelum ada yang menjawab, seorang bapak dengan sigap menawarkan  ¾ nya untuk disewa sampai ke tujuan.
“50 ribu saja, Mbak! Sampai Puskesmas Tempel.”
Saya nyengir. Sebelum menjawab terlebih dahulu saya telepon Mbak Etik, teman lama yang rumahnya hendak saya sambangi.
“Mbak, nyewa mobil ke Tempel 50 ribu mahal gak?”
“Ya, mahal lah! Kalo naik umum paling bayar 10 ribu doang kali! Gak jauh banget kok!”
Tapi, melihat tampang bapak-bapak tadi saya merasa bersalah untuk menolak. OK-lah! Saya sewa elf-nya! Sesekali jadi ratu dalam elf seru juga kali ya? Hehehe...
Akhirnya meluncurlah saya dan Pak Mul—demikian nama sopir tadi—menyusuri jalan raya Yogyakarta- Magelang menuju Puskesmas Tempel. Saya merasa lucu sendiri, sebab hanya sendirian saja berada di badan bus sebesar ini.
Agak tak nyasar Google Maps saya aktifkan. Jarak tempuh hanya 11 km dengan estimasi waktu sekitar 18 menit. Beruntung jalanan sepi. Saat hampir 600 meter jarak ke lokasi, saya pindah ke jok di belakang sopir.
“Kayaknya kita kelewat deh, Mbak!” Pak Mul berucap pelan sambil memelankan laju busnya.
“Enggak, Pak! Nih di peta masih setegah kiloan lagi!” Saya menjawab sok tahu. Padahal maksud hati sih ingin menghibur diri biar enggak nyasar.
“Depan sana sudah perempatan loh!” Pak Mul seperti berbicara sendiri. Ia sepertinya tak tahu kecanggihan teknologi yang ada di genggaman saya ini.
“Terus aja, Pak. Dua menit lagi nyampai kok!” Saya berkata sambil mengacungkan layar HP ke sampingnya.
Benar saja. Di sebelah kanan jalan nampak bangunan seperti  puskesmas dan di sebelah kiri jalan terdapat gang kecil dengan tulisan SMKN 1 Tempel diikuti anak panah.
Nampak Mbak Etik telah menanti di sisi jalan raya sambil ketawa lebar. Ia masih berpikir bahwa saya diantar dengan mobil travel atau minimal taxi. Dengan sepeda motor ia memberi petunjuk jalan, di mana bus harus berhenti.
Perjalanan menuju rumah Mbak Etik yang berliku-liku membuat Pak Mul mengeluarkan keluhan baru lagi,”Mbak, ditambah ya ongkosnya?”
Hadeeuhhh, yowislah Pak Mul, Pak Mul! Anything for you-lah yang penting saya selamat sentosa tiba ke rumah sahabat yang sudah hampir 14 tahun tak bersua!

Mororejo, 30 Januari 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik