Tiga Huruf yang Menghilang

Saya mendengar tentang Forum Lingkar Pena (FLP) sejak masih tinggal di Kalimantan Barat. Waktu itu kakak memiliki koleksi majalah yang selalu meliput kegiatan FLP di dalamnya. Sayang, dulu di kota kecil saya, Sambas, tak ada FLP cabang di sana.

Halbil FLP Bekasi Ang.1-13
Tahun 1999, saat pertama kali saya menjejakkan kaki di tanah Jawa ini, khususnya daerah Cikarang,
saya sempat mencari informasi tentang FLP. Siapa tahu ada markasnya di sini. Tapi sayang, saya tak menemukan jejak. Keinginan untuk bergabung pun hanya sebatas angan. Bahkan perlahan pupus seiring berjalannya waktu dan kesibukan. Kuliah sambil bekerja, hingga akhirnya menikah, punya anak dan  menjalankan usaha dan kegiatan menulis, juga sosial kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal saya di Hegarmukti, Cikarang Pusat. Nama FLP pun hilang dari ingatan.

Tahun 2014 lalu, lewat pertemanan di sebuah komunitas menulis, saya mengetahui ternyata FLP ada cabangnya di Bekasi. Wah, saya senang bukan kepalang! Akhirnya, setelah berbelas tahun melupakan tiga huruf itu, Allah mengijinkan saya untuk bergabung. Padahal uang untuk pendaftaran sudah habis terpakai mengikuti workshop menulis selama 3x berturut-turut bersama Asma Nadia sebelumnya di Jakarta Design Center, Slipi. Tapi nasib baik berpihak pada saya. Sehari jelang Open House FLP Bekasi, saya dapat arisan. Langsung uang itu saya gunakan sebagai biaya pendaftaran anggota Pramuda FLP Bekasi Angkatan XI.

Pertama kali ikut kegiatan FLP Bekasi, saya langsung diganjar kesempatan berharga bertemu dengan penulis terkenal nasional, Hilman ‘Lupus’ dan Ifa Avianty. Wow, selama ini saya hanya membaca karya-karya mereka saja, belum pernah bertatap muka. Mungkin bagi teman yang lain itu hal biasa. Tapi tidak bagi saya. Bertemu artis ibukota saja saya tak senorak ini, hehehe... Entah kenapa jika bertemu penulis beken, bahagianya tak terlukiskan. Mungkin karena sudah terkoneksi sebelumnya lewat novel, buku atau cerpen yang mereka tulis.

Untuk selanjutnya, saya begitu menikmati setiap pelatihan Pramuda yang diadakan setiap dua minggu di kampus Unisma, Bekasi. Bertemu dan bertanya langsung pada pemateri yang dengan senang hati berbagi ilmu tanpa ada jarak. Meski hanya bertempat di selasar masjid, duduk lesehan melingkar dengan fasilitas seadanya, itu tak menyurutkan semangat saya untuk mengais ilmu kepenulisan di sini.

Setiap pemateri yang hadir, dengan senang hati berbagi kontak mereka, entah itu nomor telepon, email, atau akun media sosial. Jadi setiap saat anggota Pramuda bisa konsultasi gratis tentang materi yang diberikan. Saya berkesempatan bertemu dengan Bang Komarudin Ibnu Mikam, inisiator yang membuat FLP Bekasi terbentuk. Kak Sudiyanto, Ketua FLP Wilayah Jakarta Raya, Mbak Rahmadiyanti Rusdie, Aprilina Prastari, Nadiah Abidin, Wiwiek Sulistyowati, Elvira Suryani dan masih banyak lagi.

Karena sering mengikuti pelatihan dan acara yang didakan oleh FLP Bekasi, saya jadi akrab dengan angkot lagi. Jujur, sejak menikah dan punya anak, saya otomatis sangat jarang bepergian sendiri. Selalu satu paket, anak dan suami. FLP Bekasi membuat saya ‘turun gunung’. Meski jarak Lippo Cikarang-Bekasi terhitung dekat, bagi wanita yang sudah menikah, tetap saja tak nyaman rasanya ke mana-mana sendirian. Beruntung anggota Pramuda lain ada yang sekota dengan saya. Sahabat saya, akhwat dan berbadan besar pula. Jadi, perjalanan terasa aman dan menentramkan, hehehe...

Tak terasa, sembilan bulan pelatihan Pramuda akhirnya selesai juga. Tanggal 15 Februari 2015 kemarin saya dan lima anggota Pramuda lainnya menjalani inagurasi sebagai anggota FLP Bekasi. Saat itu, saya berkesempatan bertemu dengan mantan Ketua FLP Bekasi yang alhamdulillah bisa berkumpul. Ada Mbak Wiwiek S, Kak Sudiyanto, Mbak Fira, dan Kak Haden. Sayang, saya tak bisa bertatap muka dengan Ketua FLP Bekasi periode pertama yaitu Mbak DH Devita.

Ah, ya satu lagi. Gara-gara FLP Bekasi saya jadi punya pengalaman menerbitkan buku sendiri. Meski sebelumnya saya sudah menerbitkan buku antologi, tetap saja antologi Pramuda Bekasi yang dibuat sebagai salah satu syarat inagurasi ini membuat saya memiliki ilmu baru tentang dunia penerbitan. Saya jadi tahu bagaimana menahan sabar gegara mengumpulkan naskah yang tak kunjung selesai dari anggota Pramuda lainnya, mengedit, membuat dan memilih cover buku hingga mengirimkannya ke penerbit. Belum lagi dengan masalah jaringan internet yang selalu menjegal dan mematahkan semangat saya.

Jika dirunut ke belakang, saya tak pernah mengira bakal menemukan kembali tiga huruf yang sempat hilang; FLP. Impian saya bertahun-tahun lalu saat masih tinggal di kota kecil di ujung barat Pulau Kalimantan, baru terealisasi sekarang. Senang akhirnya bisa bergabung dengan keluarga besar FLP Bekasi. Keluarga yang membuat saya selalu ingin terus membaca dan menulis. Menulis untuk berbakti, menulis untuk berkarya dan menulis untuk berarti. 


*tulisan ini pernah saya ikutkan dalam lomba menulis yang diadakan FLP Pusat 2015 lalu dengan tema "Aku dan FLP"

Hegas, 09 Januari 2017




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik