The Day I Went Away

Siang itu sambil berpelukan saya kembali membujuk Nay yang masih tak rela mengetahui saya pergi ke Yogyakarta tanpa dirinya. Setelah saya beritahu alasan-alasannya ia malah menangis diam-diam namun sambil sesekali tertawa malu.

Hampir pukul 3 sore, segera saya diantar suami dan Nay ke agen bus Rosalia Indah yang berlokasi di Desa Tegal Gede. Begitu sampai di sana, suami langsung menuju loket untuk check-in. Sementara saya menengok keadaan sekeliling. Rada norak sebab saya belum pernah naik bus ini, hehehe...


Satu persatu armada tiba. Namun tak satu pun sesuai dengan nomor lambung bus seperti yang tertera di tiket bus yang ada di tangan saya. Saya sempat bertanya pada petugas. Menurutnya armada yang dimaksud sebentar lagi akan datang.


Kembali saya duduk di bangku tunggu. Nay masih dengan wajah galau. Lebih banyak diam. Sepertinya ia memang benar-benar berat saya tinggalkan. Agar ia terhibur saya berfoto-foto narsis dengannya.
ketawa tapi air matanya menggenang ^_^

Hingga, akhirnya tepat pukul 15.55 WIB, bus yang saya tunggu muncul juga. Nomor lambung 349. Sambil bergegas saya menuju bus, sedang suami mengangkat koper ke bagasi. Nay dan suami ikut naik ke atas untuk melihat-lihat seperti apa keadaan bus yang akan membawa saya meluncur ke Yogyakarta sore ini.

Saya mendapat kursi single no 4A di lajur kiri, sedang di lajur kanan, terdapat dua kursi yang sama berdempetan. Sekilas nampak nyaman dengan bantal dan kursi berikut tatakan kaki yang empuk. Berikut selimut untuk menahan dingin dari AC bus yang makin malam sudah terbayang pasti makin dingin.

Tepat pukul 16.00 bus bersiap-siap berangkat. Saya memeluk Nay dan pamit pada suami. Terlihat di mata saya Nay seperti melamun. Saat mereka turun dari bus, tak henti saya lambaikan tangan. Begitu pun saat keduanya berlalu Nay, masih bisa tersenyum.

makan malam di Indramayu, lauknyaaahhh :D

Namun, feeling seorang ibu memang tak bisa dibohongi. Begitu bus bergerak, saya merasa kosong. Entah karena memikirkan Nay, atau bisa jadi saya agak sentimentil karena inilah pertama kali saya melakukan perjalanan antar kota antar propinsi seorang diri tanpa ditemani anak dan suami.

Benar saja. Saat sudah memasuki Tol Pejagan, teman saya SMS, mengatakan Nay sempat menangis karena SMS-nya tak dibalas. Saat berangkat saya memang sedikit pusing. Jadi kalau lihat HP malah makin puyeng. Saya konfirm ke suami, rupanya setiba di rumah sore tadi Nay juga menangis. Deuuhh....!

Ini memang kali pertama kami berjauhan secara fisik sebagai ibu dan anak. Sesibuk apapun kegiatan saya, belum pernah meninggalkan rumah hingga malam apalagi sampai menginap. Jadi, hingga usianya yang hampir 12 tahun, Nay baru pertama kali merasakan apa itu perpisahan.

Sabar ya, Nay? Bunda pergi bukan untuk bersenang-senang. Tapi demi memenuhi kesempatan mendapatkan ilmu menulis yang bisa ditransfer buat murid-murid atau teman Bunda yang butuh dengan pengetahuan dunia fiksi nanti. 

Indramayu, 26 Januari 2017






 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik