Saturday Night at Malioboro

Setelah makan malam tanpa dikomando kami semua ganti baju dan dandan. Iming-iming dari panitia Kampus Fiksi yang mengatakan bahwa peserta akan diajak bermalam mingguan ke Malioboro masih erat dipegang. Tapi, ini sudah lewat jam delapan malam. Sebelumnya memang ada agenda sholat berjamaah, serta pengajian dan tausiyah dari Pak Edi Akhiles sejak Maghrib hingga jelang Isya.

Latah iktan cekrek2 juga ^_^
Kami celingak-celinguk kebingungan. Diih, itu panitia kok masih ngobrol aja sih di luar? Jadi enggak nih jalan-jalannya? Jangan-jangan kami di-PHP lagi! Mau nanya malu, kesannya kok kami yang nafsu sih? Hihihi... Tapi kalau enggak nanya, ya rugi juga! Udah dandan kece badai giniih, masak
cuma hilir mudik dari ruang tidur ke kamar mandi sih? Wkwkwk...

Teh Ratna yang udah gak bisa nahan, akhirnya bertanya pada mas-mas panitia. Yess! Akhirnya kami jadi diberangkatkan. Komandonya,' ditunggu dalam 5 menit'! Aiihh, dah ready binti rapi jali kali dari tadi, bray!


Kami pun berangkat. Saya, Mba Nur, Mba Ary, Teh Suzana, Nida dan  Restia semobil dengan panitia yaitu Mba Tiwi dan Mas Kiki sebagai driver-nya. Sepanjang menuju Malioboro, jalan yang kami lalui mulai macet. Ternyata jalan ruwet enggak cuma di Jakarta aja ya?

Pukul sembilan lewat kami tiba di Malioboro. Mas Kiki memarkirkan mobilnya di Jalan Pajeksan. Ia mengingatkan kami agar berkumpul kembali di mobil pukul 11 malam. Oke, sampai di situ kami berpisah.
With Teh Suzana, peserta KF dari Sukabumi
Saya beserta peserta yang lain berjalan menyusuri deretan pertokoan. Sebagian toko sudah mulai tutup. Hanya pedagang di emper-emper yang masih ramai. Dari jauh nampak lampion merah terang bergantungan. Imlek rasa Yogyakarta. Tak ada tarian barongsai di jalan. Dan kami cukup beruntung malam ini tak disiram hujan, yang merupakan pertanda hoki bagi orang Tionghoa di awal Tahun Ayam.

Bosan foto-foto, akhirnya kami memutuskan membeli oleh-oleh. Nay minta dibeliin baju. Saya juga membelikan tas batik dan gantungan kunci untuknya. Buat suami, sepotong kaos sudah cukup.

Sebenarnya ingin wiskul malam di Malioboro, namun sayang yang kami temui di mana-mana ya wedang ronde dan cemilan khas Yogya macam bakpia, slondok/lanting, dan tentu saja gudeg. Saya sudah tak merasa asing dengan itu. Akhirnya daripada lapar, saya menikmati hidangan bubur ketan milik mbah-mbah tak jauh dari Pajeksan.

Ciyeeeehhh, yang olangan wae :D
Jalan-jalan, bersenang-senang atau apalah namanya jika dalam keadaan sudah menikah seperti saya, sungguh kurang berasa serunya jika dibandingkan bersama anak dan suami tercinta. Dengan teman-teman seru juga sih, namun tetap saja terasa ada yang kosong dan hilang!

Saya harap suatu hari nanti saya bisa ke sini lagi, bareng Nay dan suami!

Yogyakarta, 28 Januari 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik