Perlukah Anak SD Ber-HP Canggih?

Saya kembali merapikan kotak persegi yang masih bersegel tersebut. Suami sedianya akan memberikan pada putri kami yang genap berusia 11 tahun Oktober lalu. Dengan logika keibuan yang saya miliki, saya berusaha menjegal keinginannya.


Tidak! Bukan saya tidak sayang anak. Tapi membelikan gadget canggih di saat Nay begitu antusias menggunakan media sosial, saya rasa itu bukanlah bentuk kasih sayang sebenarnya. Bisa jadi keputusan menghadiahkan HP android ini malah menjerumuskan putri kami nanti. Apalagi sekarang
Nay sudah duduk di kelas enam. Saya khawatir kenikmatan menggunakan medsos akan mengganggu belajarnya. Wong, emaknya aja suka lupa diri kalau sudah mantengin HP atau lepi, hihihi....

Beruntung suami menerima masukan saya. Jujur, sebenarnya hati nyesss juga sih, saat Nay menceritakan betapa hampir sebagian besar temannya di sekolah sudah memiliki gawai pribadi. Awalnya saya ulurkan HP jadul yang biasa dipakai buat deposit pulsa, gadis kecil kami menggeleng.
“Teteh mau yang ada WA-nya, ada emot, yang bisa donlot, ama messengger-an!” Ia merungut dengan wajah ditekuk.
Selama ini, Nay memang saya bebaskan menggunakan HP saya untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Alhasil, WA, messengger dan linimasa medsos  penuh berisi chit-chat ala anak ABG lengkap dengan pajangan foto-foto narsis olahan aplikasi B612! Haisssh!

Baca juga 7 Alasan Orang Tua Memberi Ponsel Pintar Untuk Anaknya
 
Karena galau, saat kelas parenting yang diadakan untuk kedua kali di SDN Hegarmukti 02—kebetulan temanya tentang pengaruh dunia digital dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak—saya pun bertanya, pada usia berapakah anak-anak diperbolehkan memiliki HP android sendiri?
Ibu Iin Rahmawati, pemateri dari USAID mengatakan sebenarnya untuk anak SD sebaiknya tidak diperkenankan memiliki ponsel canggih sendiri. Sebab, selain memberikan akses tak terbatas pada anak di dunia maya, kini kejahatan via media sosial juga patut diwaspadai. Sebaiknya beri anak ponsel dengan fitur yang cukup untuk memberi kabar lewat telepon dan SMS. Kalau pun anak keukeuh memiliki ponsel pintar pribadi, pastikan ortu tak lalai dalam memberikan pengawasan dalam penggunaannya. Siapa saja kontaknya, siapa temannya di dunia maya, tema apa saja yang mereka bicarakan, serta cek berkala history dari akun Youtube dan mesin pencari yang mereka akses.
Kadang dengan alasan tertentu, orang tua menjadi serba permissif dengan semua keinginan anak, even hati kecil mereka ada rasa khawatir akan dampaknya di kemudian hari, tetap saja sebagian besar ortu melakukannya.
Dan saya—sampai detik ini—masih tetap memegang teguh pendirian untuk tak memberikan gadget buat Nay. Biarlah saya berteman dengan anak-anak alay, yang penting saya bisa mengontrol dan mengawasi dengan siapa anak saya berteman di dumay. Its OK-lah linimasa saya penuh dengan wajah-wajah polos gadis-gadis pra ABG dengan pose duck face yang kadang bikin mual dan tak jarang jari jadi gatal pengen mencet tombol blokir, hehehe...Dan isi messenger dan WA? Cukuplah saya saja yang bete ujung kaki ke kepala membacanya.
Everything i’ll do, asal Nay—untuk saat ini dan semoga hingga 3-4 tahun mendatang—bisa melupakan keinginannya untuk berponsel pintar seperti teman-temannya!

 Hegas, 23 Januari 2017

Komentar

  1. Anakku juga udah minta hape. Aku ngga beliin tapi neneknya ngasih, walau hape second tapi udah android. Sebagai orangtua, kita yang harus pegang kendali. Kalau semua keinginan anak kita turuti, artinya kita malah menjerumuskan anak-anak kita. Ketika anak-anak udah bisa brtanggungjawab, baru deh kita mempertimbangkan untuk mmbelikan mereka gawai.

    BalasHapus

Posting Komentar

Komen aja, jangan malu-malu! ^_^

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik