Loveable Dilan and Milea

Rupanya kami membeli urutan buku yang salah. Saat ke toko buku awal bulan lalu, Nay menunjuk tumpukan buku karya Pidi Baiq yang dipajang di rak depan pintu masuk. Di sana juga berjejer rapi buku-buku Tere Liye dari judul lawas hingga yang baru rilis.
Story of Dilan and Milea
Nay memilih buku Pidi Baiq dengan tulisan sambung ‘Milea’ yang tercetak besar di cover-nya. Saya memutuskan untuk membeli kumcer Yetti A.KA sebagai book of the month. Suka penasaran dengan
karya-karyanya. Beberapa yang sudah saya baca di media cetak, genre-nya lumayan cocok buat saya.

Saat bertandang ke rumah Arini, teman KBM yang sedang menunggu kelahiran anak keduanya yang kunjung brojol akhir Desember lalu, rupanya doi punya dua buku yang merupakan ‘kakak-kakak’ Milea. Di situ saya baru sadar Nay salah memilih urutan buku yang harus dibeli. Well, akhirnya buku ‘Dilan; dia adalah Dilanku tahun 1990’ dan ‘Dilan; dia adalah Dilanku tahun 1991’ ujung-ujungnya terpaksa harus pinjam, biar bacanya jadi nyambung hehehe...

Sebelumnya saya sudah pernah membaca salah satu karya tetralogi Pidi Baiq yang berjudul Drunken Molen. Pernah saya bahas di halaman ini!

Khusus novel trilogi  ini, membaca ketiga bukunya lumayan membuat saya ‘jatuh cinta’ pada sosok Dilan. Kelucuan dan spontanitasnya itu loh, bikin jiwa mantan gadis seperti saya klepek-klepek hehehe...Pantas saja jika tiga novel ini dianggap sebagai penunjang wajib atau panduan taktis dalam menguasai hati wanita. Saya belum banyak mengenal sosok Pidi Baiq selain kata orang bahwa ia lucu. Saya rasa jiwa dan perasaan beliau mungkin saja terbawa dalam tokoh Dilan rekaannya ini.

Namun yang patut saya kagumi adalah bagaimana Kang Pidi mampu menghidupkan tokoh Milea yang nota bene adalah seorang gadis belia. Beliau sukses membuat pembaca percaya betapa ‘maha benarnya’ keperempuanan perasaan seorang Milea terhadap Dilan.

Hal yang menyebalkan ketika baca bukunya adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang tak terlalu diindahkan. Terkesan diketik apa adanya, banyak bahasa tak baku dalam narasi, seperti bahasa ‘ngobrol’ yang dipaksakan untuk diketik dan diulang-ulang penerapannya.

Over all, trilogi Pidi Baiq ini lumayan recommended-lah buat jadi daftar bacaan. Dijamin nostalgia saat diserang virus merah jambu saat sekolah dulu kembali berasa. Bahkan sukses bikin baper emak-emak macam saya!

Hegas, 16 Januari 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik