Lotek Bu Warno dan Dosa-dosa di Baliknya

 Sebenarnya saat di mobil menuju asrama tadi saya sudah bertanya tentang sarapan kepada teman-teman. Maksud hati, sebelum ke asrama mungkin kami bisa muter-muter nyari sarapan dulu. But, mungkin karena bagian ‘muter-muter dulu nyari sarapan’ itu tak termasuk prosedur resmi tata cara penjemputan yang diperbolehkan( halaaaah), jadilah kami tetap meluncur ke penginapan sambil ngelus perut yang lapar. Owh, barangkali di asrama sudah disiapkan sarapan ya!

Pengganjal perut, kue khas Sukabumi
 Setiba di asrama Kampus Fiksi, ternyata sudah ada dua orang peserta yang tiba lebih dulu, yakni Neng Ani dan dan Neng Dini, keduanya dari Bogor. Kami pun cipika-cipika karena sudah merasa akrab sebelumnya di grup WA.
Lama ngobrol, sarapan yang ditunggu-tunggu tak kunjung nongol. Trio jomblo yang menjadi
juru jemput  tadi nampak sudah teronggok di ruang tengah, ketiduran plus kelelahan. Saya mencicip sedikit kue bawaan Mba Suzana yang berdomisili di Sukabumi. Sayang, perut saya asli made in Indonesia. Tak bisa kompromi kalau belum ketemu lontong atau nasi.

Daripada keroncongan, kami pun berinisiatif keluar gedung. Sekalian ingin tahu juga sekitar asrama seperti apa sih. Judule pengen wiskul, padahal mah emang udah gak kuat nahan lapar ajah, hehehe...
Berlima kami menuju jalan kompleks. Berharap menemukan jalan raya yang biasanya banyak pedagang makanan bertebaran. Tapi, sayang! Hingga radius 50 meter tak terlihat jalan raya ataupun bakul penjual sarapan. Tetiba saya merindukan penjual nasi uduk di sini, hehehe...

Bu Warno yang sangat friendly
Dengan jalan yang sangat lambat kami terus menyusuri jalanan sambil bermandikan mentari yang mulai terik. Di depan sana, Dini dan Ani rupanya sedang bertanya pada ibu-ibu yang menjemur pakaian. Di manakah gerangan lokasi warung yang menjual sarapan? Finally, jawaban ibu tadi melegakan kami semua. Ada penjual nasi sejauh dua belokan dari lokasi kami berdiri.
Setelah berjalan sekitar beberapa menit, tiba juga di lapak kecil yang berada persis di depan warung. Pemiliknya sedang belanja, kata pemilik warung. Kami disuruh menunggu. Hadeuhh, sudah lapar berat, nunggu pula, hiks...!

Biar lapar tetap ceria ya gaes? ^_^
Sambil menunggu, kami manfaatkan waktu dengan duduk bercengkerama dan jepret-jepret enggak jelas. Daripada bengong malah tambah bikin lapar. Tak lama pemilik warung nasi datang bersama motornya yang penuh belanjaan. Wajahnya ramah dan friendly. Kami langsung pesan lotek dua porsi, sisanya kupat tahu.
Ketika sarapan sudah dipesan, tiba-tiba panitia menelepon. Mereka bingung sebab kami tak ada di kamar. Berangkat memang tak sempat pamit, sebab tak ada siapa pun di asrama selain juru jemput yang terlanjur molor tadi. Rupanya sarapan untuk peserta sudah tiba di asrama.Yahhh!

Akhirnya, kami tetap melanjutkan makan di warung Bu Warno yang senang bergurau ini. Sarapan di asrama biar saja buat stok makan siang nanti.
Oh ya, di antara kami ada yang melakukan dosa besar berjamaah terhadap Bu Warno. Makanan yang dipesan tak kuat untuk dihabiskan. Secara diam-diam oknum ini membuang sisa makanan di piring ke dalam kantong plastik agar tak menyinggung perasaan Bu Warno yang telah susah payah membuatkan sarapan untuk kami. Memang benar, resep makan biar lahap itu adalah perut yang lapar!
Duh, maaf ya Bu Warno! Bukan kupat tahu or loteknya enggak enak, tapi daya tampung lambung kami yang memang sudah tak muat!

--to be continued—

Yogyakarta, 27 Januari 2017



Komentar

Posting Komentar

Komen aja, jangan malu-malu! ^_^

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik