Sisi Giwangan Pukul Enam

Saya tiba di Giwangan hari Jumat, sekitar pukul 06.33 WIB. Tadi bus tak masuk terminal. Saya hanya diturunkan di samping pos polisi, depan pintu masuk sebuah pom bensin. Yang menjengkelkan, saat turun dari bus dan mengambil koper, kenek bus meminta ongkos bagasi. 

Si bapak kosrek2 wae ah, gak kunjung dibuka lapaknya >0<
Wah, oknum nih! Saya omeli dia dengan menyebutkan peraturan yang sempat saya baca di papan pengumuman agen sebelum berangkat kemarin sore, bahwa hanya bagasi di atas 20 kg yang dikenakan biaya tambahan. Si kenek cuma nyengir dan salah tingkah. Emak-emak dilawan! Dasar ya? Mentang-mentang saya terlihat norak sebab enggak tahu jalan, dia pikir dengan mudah dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan pribadi.

Saya bengong sebentar. Mas Kiki--driver yang menjemput sesuai info Mbak Ve--belum menampakkan batang hidungnya. Saya telepon, malah di luar area. Hadeuuh! Saya kontak Mbak Ve untuk memastikan bahwa panitia memang ada yang bakal menjemput saya di sini. Setelah semuanya OK, saya pun duduk manis di pinggir jalan menikmati geliat sisi lain kota Yogya di pagi hari.

Tiba-tiba perut mulai keroncongan. Ya iyalah, makanan terakhir yang touch down di lambung saya sekitar pukul tujuh malam tadi. Saya perhatikan sekeliling. Di depan pos polisi, terlihat gerobak—entah jualan apa. Sang pemilik, seorang bapak-bapak sedang asyik menyapu sisi jalan sekitar tempatnya berdagang. Saya menebak-nebak, kira-kira panganan apa yang tersedia di gerobaknya. Udah jam segini, ia terlihat belum akan menggelar lapaknya.

Saya mendekat perlahan, berusaha sok akrab,”Pak, Bapak jualan apa? Saya laper nih, pengen sarapan.”

Si Bapak malah menjawab kayak orang salah tingkah,”Eh, belum ada, Mbak! Belum mulai jualannya! Ni baru nyusun gelas aja!” Jawabannya membingungkan. Ia nongkrong bersama gerobak, tapi enggak jelas jualan apa. Tak ada tulisan apapun di gerobaknya.

Tak lama sebuah mobil melambat dan berhenti tepat di depan saya yang masih termangu sambil menjauhi gerobak. Ketika pintu kaca depan terbuka, seorang lelaki muda bertanya dengan pasti,” Mbak Mila ya?”

Saya mengiyakan. Mereka pun turun mengangkat koper dan membukakan pintu mobil bagian tengah agar saya bisa masuk. Di dalam sudah duduk manis dua gadis dan melempar senyum. Kami langsung kenalan dengan menyebut nama masing-masing. Rupanya itu adalah Mbak Suzana yang bening dan Mbak Latifah nan manis, mereka baru dijemput dari St. Lempuyangan sebelumnya.

Ditemani keriuhan kelakar cowok-cowok alumni Kampus Fiksi sebelumnya—Mas Kiki, Mas Wawan dan Mas Miko di jok belakang--mobil melaju dengan santai menuju asrama. 

Kampus Fiksiiiiii, i'm comiiiiing!!!

--tobe continued--

Yogyakarta, 27 Januari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik