Kampus Fiksi H-2

Dua hari sebelum bertemu sebagai undangan peserta Kampus Fiksi Angkatan 19 yang diadakan di Yogyakarta 27-29 Januari besok, saya tiba-tiba dijebloskan ke sebuah grup WhatsApp yang anggotanya tak ada yang dikenal.

Saya pikir itu adalah grup bentukan Mba Avifah Ve, admin yang mengurus tetek-bengek Kampus Fiksi ini. Setelah ngobrol ngalor-ngidul rupanya grup ini inisiatif dari salah seorang peserta asal Surabaya, Mas Capung panggilannya.


Bagus juga sih. Paling tidak, kami bisa saling mengenal satu sama lain sebelum benar-benar bertemu di asrama nanti. Dari 24 peserta yang diundang, saya baru ngobrol dengan beberapa di antaranya.
Ada Desi dari Lampung, Ani dari Bogor, Inda dari Gunung Kidul, Aris dari Surabaya, Sekar Arum dari Kalimantan, Mba Nur dari Tangerang, Resti dari Wonogiri, Adi dari Yogya, Okta dari Jatim, Suzana dari Sukabumi, Bella dari Semarang, dan sisanya masih belum nimbrung. Jadi belum kenalan, hehehe...Kebanyakan sih cewek, anak kuliahan. Ada juga ibu-ibu seperti saya. Yang sudah bekerja juga ada. Bergabung dengan mereka membuat saya merasa kembali lagi ke masa muda, ahhaay...:p

Saya mengambil kesempatan ini untuk mencari informasi tentang perjalanan ke Yogya nanti. Estimasi perjalanan, titik penjemputan serta apa saja yang perlu dipersiapkan. 

Hingga tadi siang saya belum selesai packing-packing. Masih bingung apa saja yang harus dibawa, sebab panitia menyarankan bawa selimut. Tapi seorang teman mengatakan kalau Yogya tuh panas.

Terakhir saya benar-benar menjejakkan kaki ke kota Gudeg ini tahun 2001 silam. 2015 kemarin saya hanya ke Magelangnya saja. Dulu nginapnya di daerah Sleman, sedang kini saya ditempatkan di Wonosari. Mungkin rentang waktu telah mengubah iklim di sana ya? Sebab, seingat saya dulu kota ini tuh dingiiiiin sekali. Enggak berani mandi kalau belum jam 10 pagi, hehehe....

Hal yang masih berkesan di ingatan tentang Yogya adalah pasar tradisionalnya yang bersih. Tak ada pemandangan sampah berserakan atau kubangan air kotor nan hitam dan aroma menjijikkan. 

Lainnya? Ada keramah-tamahan khas di sana. Desa yang tenang. Air kali yang deras, jernih dan dingin. Kebun-kebun salak. Wanita-wanita pekerja keras yang saya lihat memang tak suka berpangku tangan meski sudah tak berumur. Dan Malioboro? Tak ada yang paling berkesan ketika saya berburu gantungan kunci dari satu lapak ke lapak yang lain malam itu. Juga memborong daster batik buat Ibu.

Yogyakarta, apakah masih seperti dulu? Mungkin saya memang harus menyempatkan sedikit waktu untuk bernostalgia lagi. Sesampainya di sana nanti.

Hegas, 25 Januari 2017









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik