Kampus Fiksi #19 Day 2


Hari Sabtu, Kampus Fiksi dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dimulai pukul 08.00 pagi bersama Pak Edi Akhiles (yang aslinya ternyata TIDAK berperut gendut seperti bayangan saya sebelum bertemu langsung #ups) selaku penggagas dan pembentuk Kampus Fiksi. Sesi kedua bersama Reza Nufa yang rumornya merupakan editor yang tak suka mandi dan syukurnya enggak bikin polusi. Dan sesi terakhir bersama Mbak Ajjah yang kayaknya cocok banget ikut stand up comedy. Abis, orangnya kalau ngomong lucu sih! Oh ya, hari kedua ini MC dadakannya adalah Mas Wahyu. Karena dadakan, kadang dirinya menghilang saat MC dibutuhkan hehehe...

Ngemsi ala Mas Wahyu
Di sesi pembuka, Pak Edi lebih banyak memberikan pandangan umum serta pengalaman
beliau di dunia kepenulisan. Juga tentang apa saja yang mempengaruhi cara kita menulis. Pengalaman yang kita ruahkan dalam tulisan fiksi sejatinya memberikan pengetahuan ke luar dan ke dalam, baik bagi penulis ataupun pembacanya.
Kami diwanti-wanti agar nanti tidak menjadi bagian dari sekumpulan penulis yang melepaskan kebijaksanaan kemanusiaan ketika sedang tak menulis. Hal ini akan mengancam kelangsungan eksistensi diri dari penulis itu sendiri. Pesan beliau, jadilah penulis yang lepas dari budaya performance atau budaya yang terlihat bagus di permukaan saja. Harumkan nama kita melalui karya, bukan gegara tindak-tanduk keseharian dari penulisnya.
Sesi kedua dimulai pukul 09.30 WIB bersama nara sumber Mas Reza Nufa. Teknis kepenulisan ia kupas secara gamblang.  Misal alasan kita harus menulis, hal pokok dalam menulis fiksi, tentang ide, serta penyajian teknik naskah fiksi. Penulis novel Hanif ini juga berbagi tips membuat outline, membuat kalimat yang lincah sehingga tak membosankan, tips memperkaya diksi, menghindari writers block, dll.

Apa persamaannya Mas Reza ama sus coklat? Keduanya sama2 jarang dijumpai di kamar mandi ^_^

Narsum yang juga menjadi kurator rubrik Rehal di situs basabasi.co ini menyampaikan materi secara luwes dan menyenangkan. Mungkin karena karakternya yang terlihat serius namun kadang lucu bin koplak, menjadikan proses transfer ilmu kepada kami terasa jauh dari kata membosankan.

Pukul 11.05 WIB, gantian Mbak Muhajjah Saratini yang berbagi ilmu tentang seluk-beluk penyuntingan. Di depan sekitar 20-an peserta Kampus Fiksi angkatan 19 iniMbak Ajjah menekankan perlunya melakukan self editing, yakni membaca naskah secara berulang dengan memperhatikan keutuhan cerita serta kelayakannya untuk dibaca. Hal ini dilakukan agar peluang naskah kita diterima penerbit itu lebih besar. Selain itu, self editing juga berguna untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan yang ada di dalam naskah baik dari segi keutuhan maupun kelogisan cerita, juga meliputi struktur kalimat dan tanda baca.

Mbak Ajjah in action! :D
 Mbak Ajjah juga berbagi tips agar terjalin komunikasi yang harmonis antara editor dan penulis. Seperti yang kita tahu, ada praktik simbiosis mutualisme antara keduanya. Namun, dalam beberapa hal yang menyangkut naskah, kadang terjadi juga gesekan-gesekan kecil yang bisa runyam jika antara penulis dan editor tak mengedepankan kompromi.

Nah, alangkah baiknya jika komunikasi dilakukan dua arah, baik dalam suasana santai ataupun formal namun  tetap harus mengedepankan diskusi yang sopan. Terakhir, penulis diharapkan menunggu instruksi dari editor mengenai hal-hal apa saja yang harus diperbaiki/ ditambah-kurangi dari naskahnya.

harusnya sesi writer vs editor ini ditambah durasinya ya? ^_^
Setelah ishoma, tepat pukul satu siang, semua peserta membentuk kelompok yang telah ditentukan bersama mentornya masing-masing. Saya, Mba Nur, Okta dan Ratna kebetulan dimentoring oleh Mas Reza Nufa. Tugas kami adalah membuat cerpen romance sebanyak 3-4 halaman dengan setting sesuai tempat romantis pilihan kami sebelumnya.
                                    Sayang, waktu yang disediakan hanya tiga jam untuk sebuah cerpen romance. Jujur, saya termasuk yang tak terbiasa membuat karya sekali jadi. Bisa selesai sih, namun hasilnya dijamin belepotan. Entah konflik yang kurang nendang, ending yang dipaksakan maupun self editing yang tidak maksimal.

Hal lain yang sangat berkesan adalah bahwa bertukar pikiran dengan editor fiksi itu ternyata seru ya? Waktu yang cuma beberapa menit untuk diskusi, benar-benar full dengan ilmu dan teknis menulis fiksi. Satu contohnya nih, biasanya dalam satu paragraf kita sibuk menjelaskan alur cerita kan ya? Nah, kombinasikan hal itu dengan deskripsi latar juga karakter tokoh, misal suasana tempat dan psikologi tokoh yang kita buat.

Kelas berakhir sekitar pukul lima sore. Kepala yang berasap setelah diperas nonstop lebih dari dua jam kayaknya butuh pendinginan nih! Kabarnya, panitia akan mengajak kami bermalam mingguan di Malioboro.

Wiiihhh, sepertinya asyik. Tapi sayang, ajakan itu rupanya masih bersifat tentatif. Acaranya jalan-jalannya kemungkinan dibatalkan, kalau turun hujan! Laaaah!

::to be continued::

Yogyakarta, 28 Januari 2017
 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik