Cerita di Balik Tangan Ibu

"Ih, tangannya kelihatan!"

"Ganti jilbab dulu, yang panjangan. Biar tangannya gak kelihatan." 

sesaat sebelum Ibu kembali pulang

Itu yang diucapkan Ibu saat difoto dan diajak pergi-pergi. Ibu seakan tak percaya diri dengan tangannya. Seolah organ itu akan membuat semua orang memandang aneh padanya. Padahal kenyataannya enggak!

Tangan beliau memang bukan seperti tangan milik ibu-ibu pejabat atau nyonya sosialita dengan kulit
halus dan kuku yang mengkilat. Tangan Ibu lumayan kasar. Jarinya besar-besar, dengan kulit sawo matang yang kini ia wariskan pada saya. Tak ada gemerincing perhiasan mahal yang melekat di tubuhnya. Kalau ada kontes ibu dengan penampilan terkeren di dunia, mungkin beliau yang bakal menduduki peringkat pertama dari bawah! Tak apa! Bagi kami anak-anaknya, Ibu tetap yang terbaik di dunia!


Ibu saya dulu bercita-cita jadi guru. Namun angannya kandas saat orang tua beliau menghendaki ia berhenti sekolah saat SMP kelas dua. Sejak itu Ibu mandiri mencari uang sendiri dengan berjualan kue. Jadi, sejak masih gadis Ibu sudah terbiasa bekerja keras.

Hingga akhirnya disunting Bapak di usia 16 tahun dan melahirkan putra-putrinya hampir setiap dua tahun sekali, Ibu tetap setia menggeluti usaha membuat juadah untuk menopang ekonomi keluarga. Di sini saya cukup iri dengan keterampilan yang  beliau dimilikinya. Sebab khazanah perkuehan yang saya kuasai masih bisa dihitung pakai jari. Saya tak sempat menimba ilmu sebab keburu pindah ke Jawa usai lulus SMA.

Wajar saja jika tangan Ibu tak mulus. Semua pengorbanan, kerja keras, banting tulang, jatuh bangun demi sembilan anaknya telah ia upayakan lewat kedua tangan tersebut. Andai Ibu tahu, bahwa tangan itulah yang setiap saat saya rindukan untuk digenggam. Tangan mulia yang tak pernah bosan menengadah memohon pada Allah agar anak-anaknya bahagia dunia akhirat. Tangan yang tak setiap hari bisa saya cium takzim karena pertemuan yang minim.

Jadi ingat, saat kecil dulu saya benci dibedaki oleh Ibu. Jemarinya yang kasar begitu menyakitkan di kulit pipi. Belum lagi aromanya yang selalu bau bawang. Meski Bapak tak sekali dua menyediakan ART, Ibu lebih sering memasak sendiri makanan buat kami.

Kini, saat saya sudah menjadi ibu, peristiwa itu kembali berulang. Nay selalu mengeluh setiap kali mencium tangan saya saat pulang sekolah. Dia pasti bersungut-sungut dengan muka masam.

"Ihhh, tangan Bunda bau bawang!!!"

Ya, iyalah, Nay! Kan, Bunda belum kelar masak, wkwkwkwk.... 6_6


Hegas, 27 Januari 2017




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik