Butuh versus Ingin



Seorang teman bertanya, bagaimana caranya kami mengatur keuangan selama membina rumah tangga. Dia membandingkan dengan dirinya yang sama-sama seorang istri dengan status masih bekerja pula, namun kebutuhan hidup mereka justru kian hari kian mencekik saja. Akibatnya, dia jadi keseringan sana-sini pinjam uang. Gali lubang tutup lubang!


Logikanya, suami istri yang bekerja itu kan gajinya double ya? Harusnya ia lebih bisa ‘bernapas’ lega
mengenai masalah finansial dibanding kami. Sementara saya, untuk kebutuhan hidup memang menyandarkan pada gaji suami. Lain halnya jika kebutuhan pribadi yang bersifat entertaining myself, saya upayakan pakai uang sendiri, yang berasal dari laba macam-macam bisnis yang saya jalankan.

Saya sulit menjelaskan. Selama ini saya hanya berusaha memenej keuangan suami  dengan cara mencatat sebaik-baiknya di buku khusus pengeluaran. Dari catatan tersebut, saya jadi tahu fluktuasi kebutuhan hidup kami dari bulan ke bulan. Berapa banyak penyesuaian yang harus saya lakukan mengingat pemasukan dan pengeluaran juga kadang tak tentu.

Dengan melakukan pencatatan, setidaknya saya bisa mengukur ‘kekuatan’ ekonomi keluarga kami di bulan berjalan. Otomatis dengan demikian, berbagai hal-hal yang termasuk ranah KEINGINAN sedapat mungkin ditekan dan dibatasi. Tapi, ini bukan berarti saat sedang banyak kelebihan digunakan buat hura-hura segala dibeli ya?

Di sinilah perlunya masing-masing anggota keluarga untuk menyeleksi mana yang merupakan kebutuhan, mana yang hanya sebatas keinginan. Seberapa pun besarnya gaji, jika tak dikelola dengan baik hasil akhirnya pasti tak jauh dari defisit. Keinginan yang terlalu diturutkan mungkin salah satu faktor yang sukses membuat ketahanan ekonomi rumah tangga kita mudah rapuh bin runyam.

Hegas, 22 Januari 2017




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik