My Transvaginal Experience

Dengan mengucap basmalah dokter spesialis kandungan yang berdiri di kanan saya mulai mengoleskan jeli pada tongkat yang dipegangnya. Tongkat tersebut ujungnya berbentuk (maaf) mirip organ intim pria, hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil dan lebih panjang. Sebelumnya, dengan dibantu perawat saya terpaksa pasrah ketika daleman dilucuti sebagian.
foto: uniquemoments.ro

Sebenarnya dalam hati saya tak rela diobok-obok gini. But, yang namanya perjuangan tentu saja
harus ada pengorbanan. Setelah beberapa kali gonta-ganti dokter perempuan--pilihan saya sendiri-- dan ternyata tetap tak menunjukkan hasil, akhirnya saya nyerah dengan dokter kandungan pilihan suami. Senior, ngetop, high recomended, ngantrinya seharian dan...laki-laki!!! Fyuuuh!

Oke, saya harus mematikan urat malu terlebih dahulu. Demi sesuatu yang sangat kami idam-idamkan, mungkin malu itu harus saya tekan dalam-dalam. Beruntung dokter yang saya temui ini memang benar-benar senior dalam artian sudah berumur. Paling tidak, ketuaannya membuat saya tak terlalu canggung. Bandingkan jika dokternya masih muda dan rupawan pula. Alamak!!!

Setelah di dokter-dokter sebelumnya hanya menjalani USG abdominal (lewat perut), kali ini saya harus di-USG transvaginal untuk pertama kali. Sesaat sebelum masuk ruang periksa, perawat memerintahkan saya berkemih dulu tadi. Tanpa disuruh pun sebenarnya saya sudah bolak-balik ke kamar mandi. Mendadak perut jadi mules. Mungkin bawaan stress! Ini entah sudah dokter ke berapa yang kami kunjungi demi melengkapi ikhtiar agar bisa punya baby lagi.

"Jangan tegang ya? Anggap aja lagi ditengok suami!" Pak dokter dengan rambut hampir memutih itu tertawa sambil bercanda karena melihat rona cemas di wajah pasiennya. Saya hanya tersenyum. Aseeeem!

Lewat layar monitor di depan ranjang, saya bisa melihat kondisi di dalam rahim. Dengan sabar dokter menjelaskan bagian-bagian yang nampak di sana sambil tak henti menggerakkan 'tongkat ajaibnya'! Ke dalam, ke kiri, ke kanan, lalu agak ke atas membuat saya terpaksa menahan napas. Ngeri-ngeri sedap and deg-degan, malu juga! 

"Dinding rahimnya tipis sekali ya?" Dokter itu bergumam sendiri. Lalu ia bicara ini itu. Asli saya tak terlalu paham dengan penampakan yang ia jelaskan.Yang terlihat di mata hanyalah layar abu-abu dengan bulatan-bulatan gak jelas.

Menurut dokter ovarium saya tidak aktif, dalam artian tak ada sel telur yang diproduksi akibat hormon yang gak seimbang. Hal ini menjelaskan kenapa saya tak pernah haid selama tiga tahun belakangan. Sedang hormon tak seimbang sendiri bisa terjadi karena tubuh terlalu lelah, stress, atau bisa juga pengaruh alat kontrasepsi.

"Tapi saya sudah lepas KB suntik 3 bulan sejak 8 tahun lalu, Dok!" Saya langsung menghakimi faktor terakhir sebagai biang keladi semua ini. Jika lelah dan stress menjadi penyebab, sepertinya itu kurang masuk akal. Buktinya badan saya makin melar belakangan ini! Makan enak, tidur nyenyak, stress apanyah???

"Jangan salah! Walaupun udah gak KB lagi, masih ada pengaruhnya ke tubuh. Gak bisa hilang total! Jadi, sabar ya? Mungkin program hamilnya agak butuh waktu lebih lama!"

Whatever-lah dok! Yang penting saya bisa segera hamil! Setelahnya dokter meresepkan rupa-rupa obat yang harus saya telan. Great! Akhirnya, saya siap-siap kembali' meracuni' diri dengan obat kimia lagi!

Do you know, Doc? Obat-obatan itulah yang justru membuat saya stress!!!

Hegas, Sept '15













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik