Hal Terbodoh Tak Terlupakan yang Pernah Saya Lakukan (2)



Suami yang melihat kami berhenti memutuskan untuk naik ke puncak sendiri. Lihat, egoisnya suami saya langsung terbit! Maklum, dia saat bujangan hobi naik gunung. Setelah menikah hobi tersebut terpasung. Mungkin ini ajang reuni mengenang masa-masa jayanya dulu, jadi tentu saja takkan ia lewatkan. Meskipun itu artinya meninggalkan saya dan Nayla di sisi bukit sebelah utara.
dokpri 

Sahabat saya, Vivit dan keluarganya memutuskan untuk tak naik ke atas. Hm, dia sih orang sini. Tiap
hari juga bisa lihat sunrise di Sikunir. Lah saya? Jauh-jauh dari Jakarta (eh, ralat! Cikarang ding! :p) masa cuma di sini saja? Hanya melihat awan yang mulai kekuningan, tanpa terlihat mentari di antaranya.
negeri di atas awan

"Ayok, Mbak!" Mbak Anita yang siap naik ke atas sambil menggendong Fian. Hiks, saya jadi malu. Tanpa membawa balita saya sudah menyerah. Nayla ikut 'menyemangati' saya dengan rengekan ingin diantar ke ayahnya yang saat itu entah ada di sebelah mana.

maniak selfie beraksi

Setelah memantapkan hati saya kembali mendaki. Ternyata benar, hanya dua kali undakan kami tiba di atas. Celingak-celinguk mencari bayang suami. Akhirnya pasrah setelah melihat jurang di kanan-kiri. 
Raja Siang keluar dari peraduan

Momen paling berharga hampir saja terlewat jika suami tak cepat-cepat menggiring kami ke sisi bukit yang lebih lega. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia kembali dan mencarikan spot terbaik melihat sunrise. Finally, detik-detik cantik itu pun berhasil kami nikmati.

real pic, no hoax wkwkwk


 Semoga suatu hari nanti, kami bisa kembali ke sini!

Hegas, Okt '15

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik