Mabok Duren

Seumur hidup baru kali itu saya merasakan yang namanya mabuk duren. Rasanya perpaduan antara ngidam dan mabuk laut. Tak cuma itu. Ada angin yang bergerak-gerak di perut berikut mulas dan mencret tak berkesudahan. Membuat puasa Ramadhan saya terpaksa bolong dalam waktu 2x24 jam!

Kejadian ini terjadi saat saya pulang ke Sambas, Kalimantan-Barat dua tahun lalu, Ramadhan 2014.
Kebetulan di sana sedang musim durian. Bapak yang tahu anak-anaknya hobi duren, tak henti membawa buah itu ke rumah.

Sejatinya saya bukanlah pecinta durian tulen. Hanya senang mencicipi satu dua biji. Tak pernah menghabiskan satu buah durian utuh dimakan sendirian.

Setelah beberapa malam melihat kakak tak bosan mengudap durian, saya tergiur juga ingin mencicipi. Satu, dua hingga tiga biji durian habis saya nikmati. Kondisi saya saat itu memang makan malam terlambat setelah puasa seharian.

Sayangnya, Ibu lupa untuk mengingatkan agar minum air garam setelah menyantap tiga potong durian tadi untuk menetralisir kemungkinan asam lambung naik. Saat makan sahur saya sudah tak berselera. Akibatnya pagi hari, badan mulai tak nyaman. Perasaan seperti terombang-ombang persis saat mabuk naik kapal di tengah lautan. Saya mencret dan muntah.

Untuk sesaat pesona buah eksotik ini terhapus dari kepala saya. Trauma! Tapi, itu tak berlangsung lama. Saya tergiur lagi begitu musimnya kembali dan suami pulang ke rumah dengan sekardus durian Jonggol. Hadeeuuhhh...

Duhai, nikmat durain mana lagi yang sanggup saya dustakan???

Hegas, April 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik