Nikmatnya Nasi Goreng Ini!

Saya terbangun tiba-tiba. Lihat jam sudah pukul 07.30 pagi. Biasanya setelah beraktivitas penuh di hari Minggu, Senin jadi my lazy day. Setelah subuh, saya kembali tidur karena terlalu lelah. Juga berharap pusing yang dari tadi malam mendera segera hilang.
Nasgor Mengkudu

Benar, badan mulai enakan. Saya beranjak ke luar kamar menuju dapur. Tadaaa, nampak sepiring nasi
goreng telah terhidang di sana. Rupanya suami sudah berangkat kerja tanpa membangunkan saya. Malah dia bikin sarapan sendiri dengan memasak nasi goreng spesial ini. 

Kenapa spesial? Sebab nasi goreng bikinannya membuat saya terharu. Namanya nasi goreng mengkudu, resep warisan dari almarhum ibu mertua yang sampai sekarang belum bisa saya tandingi enaknya.

Dan lewat racikan tangan suami, saya seperti kembali ke masa lalu, ketika ibu mertua masih ada. Cacahan bawang dan kunyit serta irisan mengkudu persis bikinan ibunya. How he did it? Saya tak pernah mengajarinya, dan saya juga yakin suami jarang--atau tak pernah?--membantu ibunya bersibuk-sibuk masak di dapur. Sebab kulturnya--yang saya tahu dan lihat--seperti itu.

Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin ibu dan anak. Hanya dengan mengingat rasanya, suami bisa mengolah masakan yang sama persis dengan ibu mertua. Padahal bikin nasi goreng biasa saja dia belum pernah loh!

Tak lupa sebelum menyantap dengan mata berkaca-kaca, saya mengirim ucapan terima kasih dan maaf padanya. Terima kasih untuk nasi goreng mengkudu, dan maaf karena tak sempat membuatkannya sarapan serta tak mengantarnya berangkat kerja hingga di depan pintu.

Yang mau resepnya, bisa tanya suami saya, hehehe....

Hegas, 13 Maret 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik