Ketika Anakmu Bukan Juara Satu

Hari itu pembagian raport kelas tiga. Pukul 10 pagi. Saya sedang duduk di beranda dengan suami. Nay yang baru saja pulang sekolah dan menyandarkan sepedanya di bawah pohon jambu nampak lesu. Mimiknya seperti ingin menangis. Ragu-ragu ia masuk dan menghampiri kami.
Saya tentu saja khawatir. Jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi.


"Teteh kenapa? Sakit?" Ia menggeleng.
"Berantem ma temennya?" Menggeleng juga.
"Trus kenapa dong?" Saya bertanya sambil menarik tangannya agar lebih dekat.
"Tar Bunda marah!" Saya langsung berpikir, jangan-jangan Nay tak naik kelas! Wadduhh!
"Gimana Bunda mo marah kalo gak dikasi tahu?"
Perlahan ia berbisik ke telinga, "Teteh cuma dapat rangking tujuh, Bun! Jangan marah ya?"
Nyess! Hati-hati tiba-tiba teriris mendengar ucapannya. Segera ia saya bawa dalam pelukan dan berkata," Teteh mau rangking berapa pun, di hati Bunda Teteh tetap juara satu! Yang penting Teteh jadi anak baik, murah hati dan rajin sholat, itu udah cukup buat Bunda!" Kami berpelukan erat, membuat wajah muramnya hilang seketika!

Dear moms,
Siapa sih yang tak mau anaknya pintar? Ibu mana yang tak bangga jika buah hatinya banyak prestasi? Jika mampu, rasanya ingin sekali putra-putri kita selalu di urutan nomor satu, bidang apapun itu.

Saya termasuk ibu-ibu model begitu, dulu. Umur 8 bulan Nayla sudah saya kenalkan pada buku tulis. 11 bulan jemarinya sudah 'cantik' menggenggam pensil. Dua tahun kenal abjad, dan sudah bisa membaca ketika usianya belum di angka empat. 

Bangga? Iya, dong! Siapa dulu ibunya! Batin saya congkak. Menganggap semua kepintaran yang saya punya saat sekolah dulu bulat-bulat harus bisa ditiru. Obsesi bahwa Nayla harus juara satu terus merasuki diri.

Usia 3,5 tahun Nay didaftarkan PAUD. Dua tahun dia di sana, melahap semua gambar, bacaan dan soal-soal di majalah prasekolah. Lama-lama dia bosan, ingin lebih. Buku-buku sains anak SD saya belikan. Hingga Nay ogah masuk TK, mau langsung SD saja. Saya turuti dengan anggapan bahwa makin muda masuk sekolah itu artinya anak pintar.

Meski usianya belum genap 6 tahun, Nay lolos seleksi SD. Saya? Bangga lagi dong! Calon siswa lain ada yang lewat usia 7 tahun tapi tak kenal satu huruf pun! Ciihh, ngapain aja tuh ibunya di rumah? Hati berbisik sinis.

Dua tahun di SD, Nay baik-baik saja, tetap langganan juara dua atau tiga. Meski tetap saja saya selalu menekankan bahwa ranking satu itu adalah segalanya. Hingga naik kelas tiga, Nay mulai tak antusias lagi sekolah. PR jarang dikerjakan membuat saya sering naik pitam. Bagaimana mau juara satu kalau belajar asal begitu? Saya menyuruhnya les Matematika, Bahasa Inggris dan komputer sebagai tambahan. Sayang, lesnya tak berumur panjang. Nilainya menurun. Di kelas tak jauh dari peringkat 6 ke atas.

Apa yang salah??? Rupanya saya lupa dan tidak memprediksi bahwa makin ke sini, standar dan kualitas materi pendidikan makin tinggi. Pelajaran SD sama beratnya dengan pelajaran saat SMA dulu. Kadang saya juga tak sanggup menjawab soal-soal PKN yang ditanyakannya. Atau yang parah suami tak tahu jawaban dari PR bahasa Sunda putrinya! Hadeeuuhh...

Beruntung beberapa tahun terakhir teman-teman di medsos sering nge-share artikel parenting. Dari situ jadi tahu, betapa salahnya pola pengasuhan saya selama ini. Menganggap bahwa anak adalah duplikasi diri kita sendiri, atau sebagai perpanjangan obsesi pribadi.

Padahal mereka adalah jiwa yang beda. Benar, ia lahir dari rahim saya, ibunya. Tapi Nay adalah pribadi baru yang--bisa jadi--tak sepenuhnya mewarisi gen induknya, yakni saya dan suami. Jika saat sekolah menengah dulu saya sering mewakili sekolah mengikuti olimpiade bidang studi  eksak, macam Matematika, Fisika juga Biologi, bahkan hingga tingkat provinsi. Dan Nay? Dia benar-benar tak suka pelajaran yang menguras otak semacam itu! Saya harus menerima kenyataan ini. Bukan membabi-buta menekan secara otoriter bahwa prestasi sekolahnya harus lebih baik atau minimal sama dengan orang tuanya!

Sekarang Nay sudah kelas lima. Saya tertawa saat bulan lalu, ia--dengan wajah tak bersalah--menyodorkan hasil Ujian Tengah Semester berangka 52 untuk pelajaran Matematika. Well, its OK Nay! Yang penting masih bisa ngitung uang kembalian kan? Toh, di akhirat nanti gak ada pertanyaan seputar matematika kok! Hehehe.....

Hegas, 12 Maret 2016




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik