Donat yang Bikin Nagih!

Suka makan donat? Pernahkah Anda memikirkan seberapa panjang proses evolusi untuk salah satu kudapan sederhana dan terbilang tak pernah membosankan ini?

i like the green one, fresh mint flavour

Namanya donat dari dulu sampai sekarang ya begitu saja bentuknya, berupa lingkaran dengan bolongan di tengah. Konon, asal-muasal bolongan ini pun ada ceritanya. Dulu, seorang kapten kapal
asal Denmark, Pak Hanson Gregory kabarnya selalu menancapkan kue yang dimakan pada roda kemudi kapal. Sebab kedua tangannya sering dibuat sibuk mendadak demi menguasai kapal yang tiba-tiba dihantam badai ketika sedang asyik mengunyah gorengan. Jadilah, gorengan yang ia makan untuk selanjutnya dibuat berlubang.


Ada pula donat jenis isian tanpa lubang. Bagi saya ini bukanlah termasuk keluarga donat sesungguhnya. Sebab, yang pertama kali terpikir tentang donat, bukankah dari keklasikan bentuknya itu?

Donat dulu dan sekarang, yang membedakan mungkin hanya tampilan dan rasanya saja. Bahkan donat sekarang lebih elegan jika sudah masuk gerai-gerai mahal di pusat perbelanjaan.

foto: dokpri

Di daerah saya donat biasa disebut kue gelang. Donat sederhana berbahan terigu, mentega, sedikit kelapa parut  dan ragi ini hanya bermandikan gula cair yang telah dikristalisasi, halaahh....Tentu saja namanya sesederhana rasanya. Tapi biar begitu, tetap saja kue gelang ini jadi idola jika ada pedagang juadah yang menjajakan lewat depan rumah. Itu dulu, kenangan ketika saya masih kecil, ingusan dan bau. Mau bikin sendiri, saya terlalu bebal dan malas untuk melibatkan diri di dunia kueh-mueh dan per-baking-an.

Sekarang donat, donut, doughnut atau kue gelang sudah mengalami modifikasi sana-sini. Mulai dari bentuk, bahan dasar serta topping yang beraneka warna dan rasa. Anehnya, saya masih setia dengan donat buatan lokal seperti Donat Madu Cihanjuang ini. 

Selain rasa yang bikin nagih dan harga bersahabat dibanding donut merk orang bule itu, saya juga tak khawatir dengan isu pengawet berlebih yang sempat menerpa dunia donat dan produk roti terkenal. Sebab, di gerai Donat Madu Cihanjuang ini, mereka produksi setiap hari. Bisa dilihat sendiri proses pembuatannya, all their products are fresh from the oven! Kalau tak mau donat yang dipajang--khawatir donat sisa kemarin--, bisa ditunggu yang baru matang.

Hm, nulis malam-malam gini, tema makanan pula, ternyata membuat perut jadi keroncongan ya?

Hegas, 17 Maret 2016














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik