Antara Cerpen dan Novel

Sudah seminggu ini di tempat tidur saya ditemani novel-nya Bang Arafat Nur, yang berjudul Tempat Paling Sunyi. Novel yang mengambil setting cerita di Tanah Rencong tersebut lumayan memberi saya sedikit contoh cara bercerita tanpa dialog dengan 'napas panjang' tapi tak membosankan.

foto: dokpri

Jujur saya merasa belum punya kemampuan menulis novel, meski banyak teman menyarankan
demikian. Mereka menyebut cerpen saya terlalu kompleks, jadi lebih memungkinkan jika dibuat novel. Sejauh ini saya belum menuruti saran tersebut. Masih senang bermain aman saja, menulis cerita pendek dengan ide dan tema yang dicomot dari kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang membuat saya merasa nyaman hanya dengan memproduksi cerpen adalah saya tak pandai menguntai kata-kata penuh makna sebagaimana teman-teman penulis yang lain. Kalimat-kalimat panjang yang saya buat malah jadi terkesan mendayu-dayu dan jadi merambat ke sana kemari macam daun sirih, hehehe...Saya yakin ini penyebabnya adalah minimnya daftar buku yang sudah saya baca. Pun ditambah daya ingat menurun, yang membuat saya hanya mampu membaca tanpa melekatkan kalimat-kalimat bagusnya di kepala! Maklum faktor U, saudara-saudara...! :p

Nah, di Novel Tempat Paling Sunyi ini saya bisa belajar langsung cara membuat narasi panjang tanpa kehilangan makna atau melenceng dari tema yang dibicarakan. Meski berlembar-lembar tak ada dialog, tetap saja nikmat dibaca. Saya salut dengan kepiawaian Bang Arafat Nur untuk hal yang satu ini. Entah berapa puluh ribu buku sastra yang sudah ia baca dan tamatkan. Pantas saja Khatulistiwa Literary Award 2011 sukses beliau sandang.

Saya tak ingin mengupas isi novelnya secara menyeluruh. Namun yang pasti novel ini membuat hati trenyuh dari halaman pertama hingga lembar terakhir. Hadeuuuhh, kasihan benar nasib Mustafa?  Apakah benar ada orang semenderita itu? Juga tokoh istri Mustafa yang menyebalkan bernama Salma. Pandai benar Bang Arafat mendeskripsikan karakternya sehingga tanpa sadar saya ikut membencinya. Dasar wanita kedelai, kedelai, kedelai...! Hehehe...

Akankah saya nanti tertarik menulis sebuah novel? Kita lihat saja nanti! Sementara ini saya mau lanjut ke buku Bang Arafat Nur yang lain dulu, Burung Terbang di Kelam Malam.

Hegas, 18 April 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik