Saya Menyebutnya...Lempeng Kenangan!

Pagi-pagi, hujan, tak ada yang jualan sarapan. Mau ke blok depan beli nasi uduk, jalanan banjir. Gerobak bubur kacang hijau datangnya siang. Mau beli soto yang lewat, eh nasinya habis. Mana kenyang makan soto tanpa nasi jika isi sotonya cuma potongan kol, dua iris daging ayam dan air bumbu doang? Beuhhh, cepet kaya nih yang jual soto!

foto: dokpri
Akhirnya saya masuk dapur, celingak-celinguk lalu memutuskan untuk mulai ngobrak-abrik isi
kulkas. Finally, Tuhan menyelamatkan perut saya dari cengkeraman dan rongrongan rasa lapar ini, hehe....Di situ saya menemukan terigu, mentega, keju, SKM coklat dan meses. Bikin apa ya? Bikin lempeng terigu sajalah, hehehe...

Lempeng ini sebutan untuk makanan olahan terigu yang biasa dikudap saat sarapan ketika saya masih di Sambas, Kal-Bar sana. Membuatnya sangat mudah dan murah. Tak perlu ukuran atau timbangan bahan segala. Cukup pakai perasaan dan suka-suka hatimu saja...:D

Pertama buat adonan tepung yang diaduk dengan mentega dan dibanjur air, lalu diberi sedikit garam. Setelah adonan teraduk sempurna--tidak terlalu kental dan tidak terlalu cair--tanpa sisa gumpalan tepung atau mentega di dalamnya, dadar di wajan atau teflon. Taburi meses dan keju di atasnya, tutup beberapa saat, angkat.

Lempengnya siap disantap dengan siraman susu kental manis di atasnya. Saat masih sekolah dulu, lempeng inilah pengganjal semua anak-anak Ibu saya sebelum berangkat sekolah. Tapi dulu mah topping-nya cukup gula pasir saja. Itupun kami sudah berebut menunggu-nunggu lempeng matang hingga berlama-lama duduk di dekat kompor biar bisa sarapan duluan, hehe...

Menikmatinya sering membuat saya seperti memasuki lorong waktu kembali ke masa lalu. Terkenang jaman kanak-kanak dulu. Ketika TV Bapak masih hitam putih dengan tombol ganti channel harus diputar-putar sampai patah. Siaran yang bisa ditangkap cuma TVRI dengan program-programnya yang membosankan. Berhimpit-himpitan ingin duduk yang paling depan menonton Lone Ranger, Gaban, Ultraman dan Ksatria Baja Hitam. 

Jadi, pada hari terakhir bulan Februari di Tahun Kabisat ini, saya memutuskan bahwa makanan murah meriah ini pantas disebut dengan nama Lempeng Kenangan!

29 Februari 2016 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik