Makanan Menjijikkan yang Akhirnya Saya Makan!

Saya tak pernah membayangkan bakal memakan hewan yang dulunya bagi saya menjijikkan ini. Tinggalnya di tempat lembab dan berair. Biasanya populasi hewan ini sangat banyak ditemukan di areal persawahan. Makhluk itu adalah keong sawah. Orang sini (sunda) biasa menyebutnya tutut.

foto: dokpri

Benar peribahasa yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Awalnya saya hanya bergidik melihat suami pulang dengan bungkusan tutut kuah pedas di tangan. Hanya mencibir ketika melihatnya asyik menyedot-nyedot tutut agar keluar dari cangkang.

Tapi setelah berkali-kali ia membawa tutut kuah pedas yang biasa dibeli di jembatan merah Tegal Danas, lama-lama saya tergoda juga. Apalagi suami menganalogikan rasa tutut hampir sama dengan kerang laut yang biasa kami santap di tenda seafood. Ah, masak sih tutut seenak itu?

Setelah komat-kamit baca bismillah, syahadat, solawat dan ayat kursi (efek takut mati keracunan karena gak pernah makan beginian saaat masih di Kalimantan, hehehe), saya ambil satu cangkang tutut. Pertama nyicip kuah pedasnya dulu. Slurrrp, eh enak ternyata! Pedas dan gurih. Itu baru kuahnya. Saat nyedot isinya, saya langsung terbatuk-batuk, sensasi pedas cabe langsung menonjok hidung. Sekali sedot belum mau keluar tuh daging tutut. Sekali, dua kali, usaha penyedotan itu tetap gagal!

Sebelum saya nyerah, suami dengan senang hati menyedotkan isinya agar keluar cangkang (aihhh, romantisnya makan tutut aja disedotin, kikikikkik) Dengan mulutnya yang bertenaga vacum cleaner super jet, tutut tersebut sukses dikeluarkan. Dan benar, daging tutut betul-betul nikmat, gurih dan tak kalah dengan kerang laut.

Selain enak dan meyumbang protein, tutut juga diyakini bisa mengobati macam penyakit, seperti menjaga kadar gula darah, migrain, vertigo, dll.

Hegas, 24 Feb 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik