Keburukan yang Menular

Sosok kurus dan berkulit gelap itu dengan santai menghembuskan asap rokoknya. Dia duduk persis di belakang bangku kami. Dua deret di belakang sopir. Saya yang masih kesal karena kejadian bis AC yang telat munculsebelumnya, jadi merasa 'terperangkap' dan tambah tersiksa berada dalam bis non AC yang ngetem di Terminal Cicaheum menuju Pangandaran ini.

Awalnya saya berusaha menahan sabar sambil terbatuk dengan suara yang dikeras-keraskan, kode agar ia mengerti kalau merokok ya jangan di sekitar sini. Turun dulu atau apalah, belum jalan ini.
Tanpa sumbangan asap rokoknya, udara yang tersedia di armada ini pun sudah pengap sedemikian rupa.

Rupanya ia tak paham dengan kode batuk-batuk tadi. Saya pun mengibas-ngibaskan asap rokok yang berkitar-kitar di kepala kami. Masih belum ngeh juga dia. Terpaksa dengan nada tegas saya protes padanya,"Maaf Bapak, merokoknya jangan di sini ya? Saya alergi!"

Dengan tampang masam, ia menarik napas, mendengus, lalu cepat-cepat mematikan rokoknya. Puuhh, untung saja tak diomeli. Kadang perokok yang ditegur di angkutan umum, suka ada yang sewot sambil jawab gini,"Pengen ga ada asap rokok, naik yang AC aja, Mbak!" atau,"Jangan naik umum, naik mobil pribadi sanah!" Isshhh...nyebelin!

Itu hal menyebalkan pertama. Yang kedua, ternyata bis yang kami naiki tak berhenti untuk sekedar makan malam atau shalat jamak Magrib dan Isya. Waduhhh, saat ishoma di Leuwipanjang tadi saya makan siang tak terlalu berselera. Karena mengejar waktu, warung makan yang dipilih suami full semerbak dengan aroma kecoa, huekkkss...! Jadilah kami kelaparan di perjalanan. Untungnya setiap bepergian kami selalu siap cemilan. Baru jelang tengah malam bis berhenti di rest area Tasik, setelah bermacet ria di Nagrek.

Begitu berhenti, saya dan Nayla langsung menyerbu prasmanan. Selamatkan perut dulu. Suami memilih sholat duluan. Hal menyebalkan ketiga pun terjadi. Seorang ibu sekira 45-an usianya, dengan santai menerobos antrian. Membuat mata saya mendelik tak terima. Baru di-psst-psst anak lelakinya yang ikut ngantri di belakang saya, ia menoleh sambil terkekeh. Beuuhhh....orang Indonesia!

Kelar makan, saya buru-buru mengajak Nayla sholat. Tapi baru saja ambil wudhu, suami dengan wajah cemas mengatakan bisnya akan segera berangkat. Bussyet dah! Saya pun menggeram dalam hati, lalu mengomel setelah suami pergi. Waktu yang diberikan untuk istirahat cuma 15 menit, antri saja lumayan panjang tadi. Hellow!!! Biar saja! Biarkan bis itu menunggu. Perintah Allah dan Pak Sopir, tentu saja lebih patuh pada yang pertama!

Kesal dan penat yang bertumpuk membuat saya naik bis sambil ngomel. Dan pemandangan di atas bis lebih menakjubkan lagi. Deretan kursi kami sudah diisi oleh kakek tua yang saya pikir tak kebagian tempat duduk. Sejak berangkat tadi memang banyak penumpang yang berdiri.

Saya, tanpa perasaan 'mengusir' si kakek tadi dengan ketus. Membuat lelaki tua itu tergagap dan segera bangkit entah duduk di mana. Saya benar-benar tak peduli. Membuang pandangan ke jendela, mencoba terpejam kembali.

Baru setelah bis berjalan agak lama, saya mulai sadar. Ya Allah, betapa jahatnya diri ini! Melampiaskan kekesalan beruntun dengan mengusir kakek tua yang mungkin berusia sekitar 70-an itu. Perasaan bersalah membuat saya bertanya pada suami, di mana keberadaan kakek tsb. Mungkin saya akan meminta maaf padanya. Rupanya si kakek sudah turun tak jauh dari rest area, ia duduk di seat kami hanya agar tak terlalu jauh dari pintu keluar. Astagfirullah! Saya sungguh menyesali perbuatan buruk saya tadi!

Perbuatan baik sama halnya dengan perbuatan buruk, sama-sama menular. Bertemu dengan orang-orang menyebalkan secara estafet membuat saya berlaku sama seperti mereka, jadi manusia menyebalkan juga. Pantas saja, Rasulullah berpesan agar kita pandai-pandai memilih teman.

Buat Si Kakek, di mana pun kau berada, tolong maafkan saya! 

Hegas, 29 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik