Penumpang yang Tak Dirindukan

Ini sebenarnya kisah setahun yang lalu. Kisah sedih di hari Minggu, yang selalu menyiksaku....Aisshh, malah nyengnyong pula! Hehehe...

Seumur hidup baru kali itu saya grogi naik angkot sambil sport jantung pula! Apa pasal? Apa karena sopir angkot yang saya tumpangi mirip-mirip Reza Rahardian? Bukan! Ada sosok lain yang sukses membuat saya ketar-ketir sepanjang perjalanan.

Awalnya saya salah naik angkot. Sejatinya salah si sopir sih. Sesore itu bakda Maghrib saya baru
kelar mengikuti inagurasi FLP Bekasi dan ingin pulang menyetop angkot depan Unisma, Bekasi. Sebelum naik, saya bertanya apakah trayeknya ke Hypermall or Giant? Si Reza KW tersebut dengan cepat menjawab 'Ya'! Ya udin, saya naik toh?

Tak dinyana, saat angkot melaju kencang dan saya sibuk menunduk mencari uang recehan di tas buat ongkos, rupanya jalan yang diambil bukan yang mengarah ke Giant/HyperMall atau Bekasi Cyber Park (BCP), melainkan ke Pekayon! Pertamanya saya pikir angkot tersebut ambil jalan alternatif sehingga saya tenang-tenang saja.

Tapi setelah melihat daerah sekeliling yang dilewati angkot mulai terasa asing, barulah saya sadar. Panik dong jadinya! Sudah setengah tujuh malam, saya malah salah jalur!  Mana HP lobet pula! Harusnya perjalanan cuma 10 menit, mungkin bisa jadi lebih lama sebab saya tak faham arah kembali ke jalan yang lurus, eh jalan pulang maksudnya hehehe...

Beruntung di samping saya ada ibu-ibu yang berbaik hati menunjukkan rute dan arah yang harus saya ambil agar bisa segera pulang ke arah Lippo Cikarang. Dan saat diomeli bang sopir hanya melengos sambil beralasan, dia salah dengar dikira lafal Giant (baca: jayen) yang saya ucapkan terdengar seperti Pekayon! Beuuhhh...!

Sesuai petunjuk ibu-ibu tadi, saya pun turun di perempatan entah di daerah mana, hahaha....Lalu dengan perasaan cemas menunggu angkot yang dimaksud. Terlihat banyak lelaki beranting dan bertato seliweran membuat nyali ciut (dikiiiit). Menghilangkan gundah saya mencoba bertanya pada bapak-bapak pedagang asongan yang ngetem tak jauh dari saya berdiri. Katanya arah yang saya ikuti sudah benar, tinggal menunggu angkot saja.

Angkot yang ditunggu datang. Hati pun riang. Tapi, keriangan itu sirna. Tak lama setelah saya naik, tiba-tiba angkot di-stop dan masuklah oleh seorang pria beranting perak dengan slayer yang diikat di kepala berikut tatoo melumuri seluruh tubuhnya yang terbuka! 

Dia memandang kami--saya dan dua penumpang lain--dengan tatapan entah. Pikiran buruk berkecamuk; jangan-jangan setelah ini ia mengeluarkan pisau lipat dari balik bajunya! Lalu dengan sedikit berdiplomasi dia berkata-kata penuh retorika, bahwa sejatinya ia hanya menginginkan sedikit kebaikan kami agar berbagi rejeki dengannya. Mengemis dengan halus. 

Mata takut yang saya tampilkan terlalu kentara. Saat itu uang receh yang ada hampir habis buat ongkos angkot sebelumnya. Di tangan tersisa 20 ribu dan seribuan. Sebenarnya di tas ada uang 50 ribuan. Tapi mengeluarkan dompet di depan pria bertampang seram layaknya preman, itu bukan ide brilian!

Dengan sorot mata memelas saya memberikan lembar seribuan untuknya. Matanya tetap mengarah tajam pada lembaran hijau yang ada di tangan. 

"Ini tinggal 20 ribuan buat ongkos, Bang. Saya gak punya uang lagi. Seribuan aja ya?" Sepertinya akting saya berlagak miskin mengena. Dia pun mengangguk mengambil uang seribuan yang saya angsurkan! Berterima kasih, lalu segera turun dari angkot. Fiuuuh! Tampang lecek, lelah dan bau ada gunanya juga, hahaha...

Eh, belum dua menit melaju, angkot kembali dihentikan. Naiklah sosok serupa tapi tak sama dengan yang pertama. Dia diam mematung memandangi kami satu persatu. Lalu menadahkan tangan sambil berucap kurang lebih seperti temannya tadi. Hiks, uang buat angkot tinggal 20 ribu, gimana ini?

"Ga ada uang Bang, ini 20 ribu buat ongkos!" Wajah memelas dan muka miskin kembali saya pasang!

"Tuh... bisa dituker 'kan ke sopir?" Ia berkata sambil menaikkan dagu mengarah ke sopir.

Saya pun bertanya pada sopir, berapa ongkos sampai ke BCP. Dengan uang kembalian saya terpaksa 'bersedekah' untuknya! Diakhiri dengan senyum menang namun tubuh cungkring itu berlalu. 

Sepanjang perjalanan di tol saya banyak-banyak ber-hamdalah. Beruntung sosok-sosok tadi hanya menginginkan uang receh. Bagaimana jika yang lain, misal dompet, perhiasan atau telepon genggam? Saya bergidik membayangkan!

Gara-gara kejadian itu saya pun berikrar dan berjanji, tak akan pernah mau nyasar ke Pekayon pukul tujuh malam lagi! :D :D

Hegas, Februari 2016





 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik