Gak Rugi Koleksi Karya Penulis Ini!

Awalnya saya kenal nama penulis ini lewat karyanya yang diangkat ke layar lebar. Nama yang aneh untuk ukuran seorang penulis. Membayangkannya saja saya sudah berasumsi bahwa lelaki ini ada kemungkinan sedikit berjiwa melow! Sebab nama pena yang digunakan tak beraroma macho sedikit pun. Saya malah menduga-duga bahkan nyaris memvonis bahwa penulis ini pasti hobi berdendang dan berjoget berputar-putar di bawah pohon layaknya film India!
foto: dokpri

Coba bandingkan dengan nama penulis pria lainnya. Sebut saja Andrea Hirata, Kang Abik, Raditya
Dika, atau Fredy S! Ups, yang terakhir mah not recommended ya? Dulu baca novel orang itu gara-gara salah asuhan, maklum masa remajanya masih jaman jahiliyah! Mau beli bacaan bermutu, dananya terlalu minim untuk itu! Lagi pula itu penulis jadul! Sudah tak relevan jika dibaca jaman sekarang!

Kembali ke penulis yang saya vonis hobi joget lagu India tadi...
Saat membaca bukunya pertama kali yang berjudul 'Sepotong Hati Yang Baru' saya langsung jatuh hati. Cerita dalam 'Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin' membuat jiwa termehek-mehek. Bahkan novel 'Rindu' mampu mengombang-ambingkan perasaan dan merangsang keingintahuan akan ending-nya bagaimana. Apalagi kisah Borno, pengemudi sepit (perahu motor) yang berhati lurus dalam novel 'Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah' itu, makin membuat saya jatuh cinta pada karya penulis ini, sebab ibukota Kalimantan Barat--daerah asal saya-- ia jadikan setting dalam novel tersebut.

Meski kadang saya mendapati kisah-kisah atau adegan klise dalam karyanya, teknik bercerita yang disuguhkan Tere Liye sungguh jauh dari kata membosankan. Bahkan buku Serial Anak Mamak mulai dari Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia yang tebalnya lumayan itu pun asyik disantap putri saya, Nayla, hingga tetes tinta penghabisan, hehehe...Padahal buku-buku itu--mungkin--segmentasinya adalah bacaan untuk anak-anak, tapi orang dewasa macam saya ternyata masih bisa merasakan keseruan dalam setiap kisahnya.

Oh ya, untuk kita yang sedang keranjingan nulis cerita fiksi, ada baiknya belajar teknik menulis cerpen atau novel yang bagus dari penulis bernama asli Darwis ini. Karyanya layak dijadikan acuan. Selain tentu saja tulisannya yang lumayan 'bersih', dalam artian bisa dibaca semua umur. Sehingga membuat kita tak ragu memajangnya di rak buku. 

Satu lagi yang saya kagumi, ia penulis yang tak gila hormat dan publikasi. Bahkan riwayat hidup atau ucapan terima kasih tak banyak ditemukan dalam buku-bukunya. Bandingkan dengan beberapa penulis lain. Kata pengantar dan biodata penulisnya sampai berlembar-lembar! Fiuuhhh, belum sampai bab pertama mata sudah berjelaga! Hehehe....

Jadi, masih mikir dua kali buat beli buku penulis ini? Untuk pembelian online, yang tentu saja lebih murah dibanding harga tokbuk, bisa melakukan pemesanan di sini ya?

Hegas, Feb' 2016 





  










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik