Berapa Tagihan Listrik Anda?

Banyak teman terheran-heran dan menanyakan kenapa tagihan listrik di rumah kami bisa rendah atau lebih kecil dibanding tagihan listrik mereka. Padahal alat elektronik yang kami pakai untuk kebutuhan rumah tangga kurang lebih sama. Saat ini kami memang masih memakai daya listrik 900 watt. Belum terpikir untuk menaikkan tegangan ke angka 1300.


Dulu saat pertama kali pindah tahun 2009, biasanya tagihan listrik tak lebih dari angka 60 ribu rupiah, seringnya kurang dari itu. Kebetulan dua tahun setelahnya, di rumah sempat membuka loket pembayaran listrik secara online. Dari sana saya bisa mengetahui serta mengambil perbandingan
jauhnya selisih tagihan listrik saya dengan beberapa tetangga yang langganan membayar listrik ke rumah. Dari bulan ke bulan.

Kini, dengan perabot elektronik standar seperti lampu, kulkas, mesin pompa air, penanak nasi, setrika, mesin cuci dan AC, kami bisa hemat 20-40 ribu rupiah dibanding tagihan listrik tetangga. Kadang hanya 90 ribu sebulan. Biasanya sih tak jauh dari angka 100 ribu-an. Kok bisa? Awalnya saya juga heran, tapi setelah diselidiki dengan bertanya pada yang bersangkutan, saya jadi tahu di mana letak perbedaannya.

Ada beberapa kebiasaan yang mencolok menurut saya. Mungkin terlihat sepele, tapi ternyata berdampak besar juga termasuk pada tagihan listrik tadi.

Yang pertama, pemakaian lampu. Di rumah, pada siang hari otomatis lampu sebagian mati. Kalau pun menyala, paling bersifat sementara seperti di kamar dan toilet. Dan pada malam hari, saat waktunya tidur, semua lampu mati kecuali teras dan kamar putri saya

Sejak mengetahui bahwa tidur dengan lampu menyala kurang sehat bagi wanita, saya mulai membiasakan diri tidur dengan kamar gulita dan hanya dibantu cahaya kecil dari AC. Berbeda dengan tetangga yang menyalakan lampu 24 jam, dengan alasan seram di malam hari dan gelap di siang hari jika lampu tak dibiarkan menyala. Yang paling lucu, saya punya tetangga yang takut mematikan lampu toilet dan dapur, sehingga meski ditinggal mudik pun, lampu di kedua ruangan itu dibiarkan benderang. Aneh ya? Akibatnya tagihan listrik mereka selalu membengkak.

Kedua, penggunaan alat elektronik. Saya membiasakan diri tak membiarkan peralatan listrik menganggur dalam keadaan stand-by, seperti charger, TV, radio,  kipas angin. Sedapat mungkin colokan tercabut dari sumber listrik. Kecuali untuk alat listrik yang sudah terpasang stand by seperti AC dan lampu emergency.
 
Anak dan suami juga ikut saya libatkan dalam melakoni kebiasaan ini. Awalnya memang sulit, capai mulut ini mengomel saat mendapati TV menyala tanpa pemirsa, kipas angin dan AC berhembus yang hanya membuat kedinginan makhluk gaib di pojok kamar. Belum lagi charger yang menancap tanpa ada HP yang menyedot isinya. Seiring berlalunya waktu, omelan saya lama-lama mempan juga, hehe

Ketiga, penggunaan mesin air. Inilah kenapa saya rela menyiapkan tampungan yang super besar di rumah. Karena jika pompa digunakan secara on-off berkali-kali dalam sehari, malah memboroskan banyak energi dibanding penyalaan pompa air sekali jalan.

Keempat, setrika listrik. Menggosok pakaian sedikit demi sedikit itu lebih boros dibanding menggosok dalam jumlah banyak sekaligus. Ini juga berlaku untuk mesin cuci. Jadi jangan heran jika bertamu ke rumah, mungkin akan menemukan saya sedang ‘berpesta’ dengan segunung setrikaan atau dua ember besar jemuran!

Kelima, penanak nasi dan pemanas air minum (dispenser). Saya memasak nasi untuk sekali masak. Fungsi penghangat jarang saya gunakan. Jika ada nasi tersisa, saya pakai metode tradisional dengan mengukusnya di atas kompor. Itu hanya membutuhkan waktu lima menit. Begitu juga dengan pemanas air. Konsumsi listrik bisa ditekan jika kita menggunakan termos air panas. Jadi dispenser tak perlu dinyalakan 24 jam hanya untuk keperluan beberapa kali menyeduh susu atau kopi.

Keenam, pemilihan dan penggunaan AC. Dengan daya 900 watt saya menggunakan dua AC. Awalnya banyak yang meragukan bahwa tak mungkin dengan tegangan sebesar itu kami bisa memasang AC dua sekaligus. Dengan memilih AC ½ pk berdaya 260 dan 330 watt semua itu ternyata bisa dimungkinkan. Toh, untuk kamar ukuran 3x3 rasanya ½ pk sudah lumayan dingin bagi saya. Penggunaannya juga kami siasati. Saat suami tak di rumag, saya kadang ‘mengungsi’ di kamar putri kami atau sebaliknya. Jadi memberi waktu bagi salah satu AC untuk ‘istirahat’ sehingga tak terus menerus digunakan.

Penggunaan energi listrik sekecil mungkin bisa juga dilakukan dengan mendesain rumah tinggal yang lebih ‘hijau’. Misalnya untuk meminimalisir penggunaan AC/ kipas angin agar udara di rumah terasa sejuk di siang hari, kami membuat jarak yang lumayan tinggi antara plafond dan atap. Jendela juga dibuat dengan kusen yang memanjang berikut ventilasi lebar, sehingga memungkinkan udara mengalir bebas. Adanya pohon di depan rumah juga ternyata sangat membantu mengurangi teriknya matahari yang menerpa serta panasnya udara.

Untuk kompleks perumahan yang tak memungkinkan adanya jendela samping, ruangan dalam biasanya terkesan gelap sehingga lampu harus menyala. Siasati hal ini dengan membuat pencahayaan luar bisa masuk di bagian atap dan plafon. Kami membuat pencahayaan ini di bagian atap antara sekat dapur dan kamar belakang, sehingga siang hari dua ruangan itu tak memerlukan lampu. Agar tak pengap di bagian dapur, ventilasi sebaiknya juga diperhatikan.

Mungkin banyak lagi yang bisa diupayakan untuk menghemat energi listrik. Tapi bagi saya yang hanya ibu rumah tangga, kiranya baru itu saja yang mampu dilakukan. Mungkin terlihat kecil, tapi jika diterapkan oleh lebih banyak keluarga di Indonesia, bisa berdampak besar dan mengurangi penggunaan energi listrik secara nasional.

Milanur, 25 Juni 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik