TUYUL KOMPLEKS

Pulang ke rumah, tanpa angin tanpa hujan suami menyuruh saya menghitung dan merapikan uang dagangan pulsa yang memang tak pernah diutak atik kalau belum saatnya untuk beli deposit.

"Bun, rapihin uangnya!"

"Emang napa, Yah?"

"Ada tuyul!"

"Tuyul? Kata siapa sih?" Saya langsung teringat film jadul yang ada Ateng-nya berperan sebagai
makhluk gaib pencuri duit tersebut.

"Banyak yang udah kejadian!"

"Alah, paling tuyul pala item!" Saya menghibur diri. Padahal terselip takut juga dalam hati.

"Gak tau, tuh tadi dengerin cerita bapak-bapak. Katanya Bapak A kehilangan uang, trus Bapak B juga pernah!"

"Masak sih? Mungkin lupa kali narohnya di mana! Human error malah nyalahin tuyul! Ingat gak dengan kejadian uang qurban kemarin?" Saya kembali berusaha  mematahkan opini suami.

Ada insiden kecil yang terjadi sebelum Idul Adha kemarin. Suami mendapat amanah untuk memegang iuran para peserta qurban. Nah, setiap ada setoran kami bergantian menulis catatannya.

Bedanya jika saya yang menulis, langsung dihitung kembali total uang yang sudah terkumpul. Sudah sesuaikah dengan catatan. Tapi itu tidak terjadi dengan suami. Selesai dicatat, ya sudah langsung disimpan kembali.

Saat saya mudik, uang masih di rumah. Saya agak ngeri menyimpan uang cash, sementara suami dari pagi sampai malam kerja. Saya wanti-wanti via telepon agar uang tersebut segera diberikan ke bendahara masjid untuk disimpan saja di bank. Uang itu pun disetor, tenang hati saya.

Nah, saat akan membeli hewan qurban, total uang yang sudah disetor ke bendahara kurang 900 ribu dibanding catatan yang ada. Bagaimana bisa? Sementara setiap kali ada yang setor saya pasti menghitung ulang dan selalu sesuai dengan catatan.

"Uang yang terkumpul kemarin sebelum Bunda mudik 5 juta kan, Bun?" Pertanyaan yang aneh. Dia yang setor, kenapa tanya ke istrinya yang tak tahu apa-apa? Arrrghhh...

"Kata siapa 5 juta? Perasaan Bunda gak pernah ngomong uangnya ada 5 juta! Kemarin waktu Bunda suruh setorin, dihitung enggak uangnya?" Saya mulai bertanya layaknya detektif.

"Enggak." Enggak? Beuuhhh! Kepala mulai berdenyut-denyut mendengar jawaban enteng suami.

"Trus Pak Aris ngitung nggak?"

"Gak tau!" Yaelah, jawabannya makin membuat tensi naik aja!

Gawat! Kalau uang disetor lebih dari 5juta tentu ada konfirmasi dong! Tapi dari sejak uang disetorkan hingga jelang pembelian hewan qurban, sama sekali bendahara mesjid itu tak menyinggung kelebihan uangnya. Berarti dia juga dalam keadaan tidak menghitung. Kekurangan uang itu tak bisa dideteksi. Padahal di catatan jelas menunjukkan jumlah total setoran warga adalah 5,9 juta rupiah! Suami hanya menghitung dana terakhir yang ia catat, tanpa melihat lagi ada catatan dana yang masuk setelah itu dan kebetulan saya yang mencatatnya!

Saya mulai naik pitam. Hm, baru ditinggal dua minggu saja, keuangan sudah acak-acakan begini. Bagaimana suami bisa menyetorkan uang tanpa dihitung terlebih dahulu? Kehilangan uang bisa diganti. Tapi ada yang lebih penting dari itu, hilang kepercayaan. Bagaimana pun juga itu adalah dana amanah umat, yang harus dijaga dan disimpan, jangan sampai terpakai, hilang atau berkurang.

"Besok-besok Bunda gak mau lagi lihat Ayah megang dana qurban! Ini yang pertama dan terakhir! Titik!" Saya berucap kesal pada suami.

Sebelum amarah meledak atas keteledoran suami, azan Isya berkumandang. Buru-buru saya mengambil wudhu sehingga marah ini tak berkelanjutan.

Selesai sholat, pikiran lebih tenang. Saya mulai mencari hikmah atas kejadian uang yang hilang tersebut. Mungkin ini peringatan bagi saya dan suami agar lain kali lebih berhati-hati dalam memegang dana amanah warga. Mungkin juga kami memang harus sedekah 900 ribu untuk mengganti uang qurban yang kurang itu. Padahal jangankan mengambil, untuk meminjam sebentar saja saya takut. Karena tugas suami adalah mengkolektif uang warga, bukan memakai atau meminjamnya.

Solusi terbaik sebaiknya memang harus menggantinya. Apa kata warga nanti mengetahui uang qurban yang mereka titipkan hilang? Duh, saya tak sanggup membayangkan!

Saat suami pulang dari mesjid, saya menyarankannya untuk membicarakan hal ini pada bendahara. Ada baiknya ditanyakan meski itu beresiko menyinggung perasaan si bendahara tadi. Sebab, dengan kejadian ini terkesan bahwa suami 'menuduh' si bendahara tadi diam-diam tak memberitahu bahwa setoran suami lebih 900 ribu!

Suami berangkat membawa buku catatan dan semua uang sisa setoran terakhir. Saya gelisah menunggu hasilnya. Semoga saja bendahara masjid itu tak tersinggung. Semoga saja berita uang qurban yang berkurang ini tak menyebar. Sekira hampir jam 10 malam, suami pulang.

"Gimana Yah?" Tak sabar saya untuk bertanya.

"Ada kok uangnya!"

"Alhamdulillahh," terasa segala batu yang menggantung di pundak tiba-tiba sirna,"tapi kok bisa tau uangnya ada?"

"Ya, kemarin waktu setor Pak Aris juga gak ngitung. Tapi bisa ditelusuri dari catatan total dana yang disetor ke rekening mushola. Dari sana ada kelebihan dana 900 ribu."

Penjelasan suami membuat bayangan buruk saya sirna.

Dan sekarang tiba-tiba suami pulang dengan membawa berita tuyul berkeliaran di perumahan. Semoga itu tak benar. Jangan sampai gara-gara keteledoran manusia, malah menyalahkan tuyul yang tak tahu apa-apa!

Kasihan si Tuyul! Sudah kecil, jelek dan botak, dikambinghitamkan pula! Hehehe...

Hegar Asri, 10 Oktober 2014

Komentar

  1. saya juga suka nyimpen uang di Qur'an mba hehe katanya nyimpen uang di dalam lipatan Qur'an akan aman tuyul pun tak akan mengambilnya hehe
    kasian ya si tuyul di salahin terus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya...hihihi...jadi rajin buka Quran dong ya Mbak Ipah, ngaji sambil ngecekin duit di sana...:D :D

      Hapus

Posting Komentar

Komen aja, jangan malu-malu! ^_^

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik