Musibah Berhadiah

Dalam pembagian bentuk kecerdasan manusia ada yang disebut sebagai kecerdasan spiritual. Di mana hal ini sangat terkait erat dengan sikap kita dalam menghadapi ujian hidup. Termasuk musibah. Entah musibah kehilangan harta benda, kematian, penyakit, kemiskinan, kekurangan fisik dan lain sebagainya.
Sebagai seorang muslim, kecerdasan spiritual ini diwujudkan dengan kecepatan kita menangkap
hikmah di balik musibah. Dalam artian seberapa cepat kita menyadari bahwa musibah yang Allah turunkan pada kita sebenarnya menyimpan 'hadiah' di dalamnya.

Di dunia ini, mungkin sangat jarang sekali manusia yang menginginkan musibah. Buktinya hampir dalam setiap doa kita memohon keselamatan pada Allah. Baik keselamatan dunia maupun akhirat.


Seringkali kita beranggapan bahwa musibah selamanya bermakna dan berimbas negatif. Kehilangan harta membuat kita bakal sengsara. Terpuruk saat kehilangan orang yang dicintai. Atau down begitu Allah menguji dengan musibah yang lazim terjadi pada kehidupan manusia.

Kesedihan dan rasa kehilangan memang manusiawi. Tapi jangan sampai membuat kita berpikir bahwa musibah yang datang adalah takdir buruk. Akhir dari segalanya.

Musibah yang terjadi pada kita bisa diartikan dua hal, sebagai ujian maupun teguran. Jika kita berpegang pada dua hal ini, Insya Allah kita tak butuh waktu lama untuk move on dan menjadi yang tercepat mengambil hikmah di dalamnya.

Ingat janji Allah dalam surat Al Insyirah, innama'al usriyusro, bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Bahkan Allah mengulang janji-Nya tersebut hingga dua kali berturut-turut sebagai penegasan. Fainnama'al usriyusro, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.

Jika Allah sudah berjanji, apa yang harus kita khawatirkan lagi?

Hegas, 28 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik