Malaikat Bertanduk

Pernahkah kita berada di posisi ini?


Sangat-sangat bete saat haus dan lapar melanda, tiba-tiba teman dengan sukacita mengaplot aneka foto makanan menggiurkan yang siap santap di linimasa sosial media. Lalu kita mengumpat dalam hati,"Plis deh, gak tau ya kalo Senin itu banyak yang shaum?"

Atau mencibir saat melihat akhwat berhijab lebar, namun riasan yang ia pakai menornya melebihi
dandanan banci dangdut yang keliling pasar! Dengan bibir menyang-menyong kita bergumam sinis, 'Huh, percuma berjilbab lebar, tapi hobi tabarruj!'

Lalu melihat selebriti perempuan ramai-ramai berhijab, tapi masih bebas bersentuhan dengan non mahram atau masih menampakkan lekuk tubuh mereka di depan kamera, yang menyeret kita untuk mencibir menghina,"Sayang yah, berjilbab luarnya doang!"

STOP!!!

Kadang dengan melakukan full ibadah wajib dan satu dua amalan sunnah kita merasa sudah berhak mencap orang lain salah. Merasa suci saat melihat orang lain level ketakwaannya baru sekian inci. Padahal nilai taqwa manusia hanya Allah yang tahu kadarnya. Tak bisa menilai iman seseorang berdasarkan sedikit banyaknya amalan yang ia kerjakan.

Kita terlalu sibuk menilai perilaku dan amal ibadah orang lain, lupa menilai diri sendiri. Padahal amal yang bergumpal-gumpal tak akan membawa ke surga jika tidak ada keridhoan-Nya.

Bagaimana Allah ridho jika kita masih berburuk sangka pada orang lain?
Bagaimana Allah ridho jika kita masih gemar mencibir sesama muslim?
Bukankah tak sempurna iman seorang mukmin hingga ia mencintai mukmin lainnya seperti mencintai diri sendiri?

Jangan sampai ibadah wajib dan sunnah yang--kita anggap sudah--menumpuk mengubah  kita jadi malaikat bertanduk!

Ya Allah Ya Rabbi, hindarkan kami dari buruknya lisan dan keruhnya hati, aamiin...!

#remindtomyself

Ramadan hari ke 8, 25 Juni 2015










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik