Diksi Lebay dalam Naskah

Apakah karya yang bagus itu harus didominasi dengan diksi yang njelimet? Sebab ada sebagian penulis yang berasumsi bahwa makin pusing pembaca gegara diksi yang membanjiri cerpen atau novel mereka, makin nyastra-lah karyanya!


Well, menurut saya, karya bagus itu tak mesti disertai diksi yang lebay. Kebanyakan diksi yang tak akrab di telinga juga tak bagus bagi pembaca. Terutama pembaca awam yang memiliki koleksi
perbendaharaan kata terbatas di kepalanya.

Bukankah kita ingin karya yang dibuat dinikmati oleh semua lapisan pembaca? Jadi, jika diksi-diksi kita hanya kalangan tertentu yang tahu, karya yang dihasilkan tak bersifat universal atau membumi. 

Proses penyampaian ide lewat tulisan jadi tersendat akibat ulah diksi yang berlebihan ini. Jangankan menikmati, yang terjadi justru pembaca megap-megap. Kehabisan napas akibat tak mengerti makna dari tiap pilihan kata yang kita suguhkan! Sangat tidak mengasyikkan jika dalam satu paragraf pendek narasi, pembaca harus berulang kali membuka KBBI!

Meski begitu, tak haram juga hukumnya jika ada penulis yang begitu fanatik menggunakan diksi-diksi nan rumit. Ini masalah selera saja. Bisa jadi ia terbiasa membaca tulisan yang beraliran demikian, sehingga terbawa-bawa dalam gaya tulisannya.

Ini pun berlaku bagi penikmat tulisan. Ada pembaca tertentu yang tak mempermasalahkan hal ini. Pembaca yang sedianya memang sudah kebal ketika dihidangkan diksi pelik yang memabukkan.

Hanya saja, ada baiknya kita berkaca dari sastrawan terkenal, yang tulisannya tak melulu berdiksi lebay. Lihat saja puisi Taufiq Ismail dan Chairil Anwar. Diksinya rumitkah? Tidak juga.

Malah justru dengan kesederhanaan pilihan katalah yang membuat karya mereka tetap lekat di kening pembacanya.  Betul tidak?
.......

Kalau sampai waktuku

Kumau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau!

Tak perlu sedu sedan itu...

......

Tuh, sudah berbelas-belas tahun masih terngiang jelas puisi  Aku karya Chairil Anwar di atas! Diksi nan biasa namun melegenda!

Hegas, 18 April 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik