Kurir yang Membuat Ketar-ketir!

Salah satu syarat inagurasi calon anggota FLP Bekasi adalah harus menerbitkan buku antologi. Sebenarnya dari beberapa bulan sebelum inagurasi kami sudah berdiskusi mengenai tema tulisan yang akan disuguhkan, masalah biaya, siapa yang mengurus ke penerbit dan lain sebagainya.


Sebab satu dan lain hal, akhirnya beban mengurus naskah dan mengajukan ke penerbit jatuh ke
pundak saya. Mulai dari mengumpulkan naskah teman pramuda, mengedit, membuat kata pengantar, profil penulis, hingga harus mengirimnya ke penerbit yang akhirnya jatuh pada penerbitan milik teman saya di KBM, Lovrinz Publishing, milik Teh Rina Rinz.

Waktu yang mepet membuat saya dikejar deadline. Proses cetak buku memakan waktu tujuh hari kerja. Baru jadi tanggal 12 Februari, sementara dua hari kemudian sudah inagurasi. Waduh, bagaimana ini?

Akhirnya saya meminta pada Teh Rina untuk kirim paket One Night Service. Lumayan mahal dibanding paket reguler tapi tak ada jalan lain agar buku tiba di tangan saya sebelum Minggu pagi.

Buku dikirim sejak Jumat, tapi hingga Sabtu siang paketnya tak kunjung datang. Saya mulai khawatir. Bolak-balik saya memberitahu Teh Rina yang melaporkan bahwa paket tersebut sudah di Jakarta. Dan yang paling menegangkan saat dicek di website, paket saya dikabarkan sudah diterima di alamat tujuan.  Saya makin kalang-kabut!

Hingga pukul lima sore perasaan masih tak tenang. Kok paketnya belum tiba juga ya? Akhirnya saya inisiatif membongkar laci lemari yang menyimpan struk jasa kurir yang sama dan pernah saya gunakan. Menelepon nomor yang tertera, berharap itu adalah kantor pusat untuk daerah Bekasi.

Ternyata benar! Paket saya sudah tiba di tujuan, maksudnya di kantor pusat Bekasi. Menurut petugas, paket saya baru saja dibawa ke Cikarang. Saya sedikit lega.

Tak lama telepon masuk dari pihak penerbit yang mengatakan bahwa paket saya sudah di berada di Lippo Cikarang. Cuma sayang, kurirnya tak tahu lokasi persis rumah saya.

Saat dihubungi, nomornya salah. Kembali saya sms Teh Rina, dan dibalas dengan mengirim nomor yang benar. Salah di bagian ekornya ternyata!

Saya telepon balik. Nyambung! Thanks god!

"Hallo, Mas J** ya?"

"Iya, ini Ibu Mila ya?"

"Betul, gimana paket saya bisa dianter sekarang gak? Katanya dah di Lippo Cikarang?" Dengan nada tegas, saya langsung ke pokok masalah.

"Betul, Bu! Tapi, gimana ya? Saya ga tau daerah Ibu!"

"Lah, gimana sih? Ya, samper dong ke sini! Ada kendaraan 'kan?"

"Iya Bu, cuma saya blank daerah sini!"

"Lippo Cikarang itu  sekitar 30 menit-an ke tempat saya. Nanti saya kasi rute deh!"

"Waduh...saya ga bisa, Bu! Udah malam juga, saya ga tau jalannya!"

Ucapannya membuat kepala saya bercula. Argggh, kiriman satu malam masak bertele-tele gini sih? Percuma dong saya bayar mahal, tapi kurirnya tak tahu alamat yang ia tuju!

"Gak bisa gitu, Mas! Paket itu harus sampe malam ini juga! Sebab besok saya sudah harus membawanya pagi-pagi sekali." Ucap saya sangar. Biar tahu rasa tuh kurir! Laki kok takut nyasar?

"Iya, Bu! Nanti saya nanya-nanya dulu!"

Telepon ditutup. Celakanya, hampir beratus-ratus menit sesudahnya ia tak menelepon balik. Selalu minta dihubungi. Kurir pelit!

"Halo, gimana Mas?"

"Udah Bu, tadi dah dibawa ama temen saya, kurir area sini. Tapi tadi dia juga minta rute jelasnya, Bu. Dia lupa!" Hadeeeuuuh...

"Patokannya daerah Tegal Danas, sekitar pintu tol Delta Mas, sebelum Jembatan Merah yang mau ke Pemda!"

Percakapan terputus setelah saya meminta nomor HP kurir yang ia maksud. Sayang, nomor tersebut tak kunjung diangkat ketika dihubungi.

Pukul 22.03 WIB terdengar mobil berhenti di depan rumah. Saya bergegas keluar. Benar saja, itu kurirnya!

"Maaf ya, Bu! Ini ada titipan dari teman saya. Paketnya agak terlambat. Tadi saya agak lupa jalan masuk ke sini!"

"Oowh, bukannya kurir J** biasa ke daerah sini ya?"

"Iya, Bu! Biasanya saya pakai patokan warung di seberang kali depan gerbang itu. Karena digusur saya jadi bingung tadi, mungkin karena udah malam juga."

Huft, akhirnya, setelah berjam-jam melewati ketidak pastian, paket buku saya sampai juga! Yang jadi pertanyaan, bagaimana bisa perusahaaan ekspedisi merekrut kurir yang serba tak tahu jalan? Kalau memang seperti itu, minimal si kurir diberi fasilitas yang menunjang pekerjaan mereka, seperti peta wilayah, ponsel ber-GPS, dll. Agar di lain hari tak terjadi lagi kejadian seperti yang saya alami.

Hegas, 17 Februari 2015

foto: google image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik