Nulis atau Ngomong?

Jika ditanya begitu, apa jawaban Anda? Saya sendiri, meski aslinya 'bawel' dan (pssst) belagak  jaim kalau belum kenal, tetap merasa lebih nyaman menyampaikan sesuatu secara tulisan dibanding lisan.

Kenapa? Sebab, kalau tulisan bisa ditimbang, ditinjau ulang, diganti dengan kata yang lebih halus saat pengeditan. Sementara kalau omongan kan tak ada siaran ulang! Ya, kalau yang kita lisankan adalah ucapan dan kata-kata yang baik, bagaimana jika sebaliknya?

Ah, bisa minta maaf ini! Ok, minta maaf atau memaafkan memang mudah. Tapi melupakan? Belum
tentu semua orang bisa. Oleh karena itu, akan lebih baik jika dalam membuat tulisan atau dalam berlisan sebaiknya kita tetap menjaga agar tak terjadi petaka. Sebab, banyak juga kasus pidana hanya gara-gara menulis. Contohnya kasus kicauan dan status di media sosial misalnya.

Menulis memang tak segampang bicara. Memindahkan kalimat demi kalimat dalam bentuk tulisan, tak semudah ucapan lisan. Saat bercakap-cakap, mulut tinggal mangap. Lalu  bibir dan lidah bekerja sama sehingga berhamburanlah berbagai macam kosa kata.

Lalu apakah kelancaran menulis didahului oleh kemampuan seseorang saat berbicara? Hm, sepertinya tidak juga ya? Buktinya banyak yang begitu 'cerewet' giliran disuruh menulis, ia pusing tujuh keliling!

Menurut saya, malah justru sebaliknya. Dengan terbiasa menulis, saya pikir sangat membantu keterampilan kita dalam berbahasa. Dan akan menjadi sangat mudah jika dipraktekkan saat berbicara di depan audiens nantinya. Sebab, saat menulis kita sudah terlatih memilih dan memilah kata atau kalimat apa yang enak dibaca atau disampaikan. Bukankah pembicara atau MC itu mulai bekerja dengan menulis dan membaca skrip yang telah dibuat sebelumnya?

Saya dulu gampang nervous dan terbata-bata jika diberi amanah membuka sebuah forum, entah saat  diskusi kelompok, acara formal, acara tak resmi semacam bincang-bincang di komunitas atau majelis taklim.

Seiring waktu, setelah belajar membiasakan menulis terutama di blog ini, perlahan saya bisa membuat skrip kilat di jidat, tentang statement apa saja yang akan saya paparkan nantinya. Lumayan, mengurangi gagap saat berbicara di depan umum. Minimal saat sesi tanya jawab, saya tak menggunakan kertas lagi untuk menyampaikan pertanyaan pada pembicaranya, hehehe...

Jadi, sekali lagi mau memilih tulisan atau lisan, tetap saja kita sendiri yang harus jadi editornya. Tulisan atau lisan wajib masuk ruang edit norma dan etika di kepala, sebelum di-posting di social media maupun ungkapan verbal dunia nyata.

Jangan sampai gegara tulisan 140 karakter kita dapat perkara! Gegara lisan yang tak dijaga, ada yang tersakiti karenanya! Lagi pula, bukankah Rasulullah sudah berpesan, jika tak bisa berkata yang baik, lebih baik diam?

Wallahu 'alam bishawwab!

Hegas, 28 Februari 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik