Ke Mana Anak Berbakat Itu?

Saat masih ngeblog di Kompasiana dulu, saya sempat mengikuti kehebohan kasus liker abal-abal yang berujung bullying berjama'ah. Membuat saya menarik diri gara-gara tak tahan dengan postingan caci-maki pro kontra yang seperti berbalas pantun menghiasi kanal-kanal bacaan di Kompasiana.

Herannya, admin sendiri seperti menikmati 'perang' ini. Jadilah saya yang jadi korbannya,
memutuskan pensiun dini sebagai anggota karena tak ingin menjadi bagian dari kericuhan ini, hehehe..

Ceritanya, ada kompasianer muda berbakat menulis yang luar biasa. Tulisannya yang begitu indah, dianggap tak sesuai dengan umurnya yang saat itu belum 17 tahun. Cara berceritanya yang terlalu dewasalah, tulisan yang terlalu sempurna, plagiator, hingga akun palsu dialamatkan padanya. Intinya ada sebagian kompasianer yang tak terima dengan gift menulis anak tersebut.

Celakanya lagi, tiap kali posting, jumlah liker yang muncul pada tulisannya selalu berjumlah di atas rata-rata. Semenit posting, yang like langsung ribuan. Kenyataannya anak ini memang memiliki ribuan follower di akun sosial media yang terkoneksi langsung dengan akunnya di Kompasiana.

Hm, kasihan. Sebenarnya saya sangat menikmati coretan-coretannya, terlepas dari apakah ia benar-benar asli atau palsu. Sebab, kalaupun ia palsu, toh apa yang ia tulis lumayan menghibur saya yang memang ingin menikmati dan rindu dengan karya-karya miliknya.

Sejak memutuskan berhenti jadi Kompasianer, saya kehilangan jejak. Entah bagaimana nasibnya. Kalau benar plagiator, semoga cepat insyaf. Jika semua tuduhan itu tak benar, semoga suatu hari nanti saya bisa menemukan karyanya dalam bentuk buku best seller!

Hegas, 13 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik