Be Winner by Liker, Is It Fair???

How many like do you like?
Beberapa kali saya menemukan event menulis yang sangat menarik untuk diikuti. Tapi begitu melihat persyaratannya, saya langsung mundur teratur. Mending tak usah ikut.

Bukannya pesimis atau kalah sebelum bertanding, hanya saja saya tak sreg dengan sistem penentuan nilai berikut pemenangnya. Mereka mengambil poin berdasarkan jumlah like terbanyak dari naskah
yang diposting! Hm...

Rasanya tak adil jika tulisan dianggap menang dengan layak hanya berdasarkan like terbanyak. Ini sangat tak memenuhi sisi keadilan bagi peserta yang lain. Kenapa?

Pertama, hasilnya bisa jadi telah mengesampingkan penilaian substantif naskah itu sendiri. Tulisan jelek tapi banyak like bisa saja menjadi pemenangnya. Tak adil bukan?

Kedua, ketentuan begini akan mendorong si pemilik naskah jadi 'pengemis' like pada teman-temannya. Tak sekali dua saya di-inbox teman yang berharap jempol ini mampir di link-link yang mereka sodorkan.

Sudah menjadi watak orang Indonesia, hampir semua kita akan merasa tak enak jika dihadapkan pada posisi ini. Tanpa melihat tulisannya bagus atau tidak, kita sedekah like atas dasar pertemanan. Kasihan peserta yang jaringan pertemanannya masih terbatas. Tentu sedekah like susah didapat.

Ketiga, bisa saja peserta melakukan jalan pintas untuk menang dengan fasilitas jasa liker otomatis berbayar yang selama ini memang sudah menjadi industri di sosial media. Ini sangat tak adil bagi mereka yang memiliki jumlah follower/liker real manusia, bukan robot dumay yang bekerja sesuai 'pesanan'.

Jadi, penilaian tulisan berdasarkan like terbanyak, seharusnya tak dijadikan syarat utama dalam menyelenggarakan kontes/event menulis. Sebab menurut saya menang dengan cara begini, bukanlah juara sejati!

Hegas, 12 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik