Suami Keren Tuh Begini...


"Duh Bunda, harganya mahal-mahal banget!"

"Yaah, kayaknya bakal nambah deh utangnya!"

"Suamiku ngomel-ngomel terus, kalau ngeliat aku beli baju or Tupper**re!"

Begitu biasanya reaksi yang keluar saat saya menyodorkan katalog terbaru yang berisi macam busana dan pernak-pernik wanita pada ibu-ibu sekitar rumah.

Entahlah, mereka yang lebay atau memang keadaannya seperti itu saya tidak tahu. Secara kasat mata, ekonomi mereka saya anggap gak miskin-miskin amat.

Karena lingkungan industri, para ibu itu rata-rata bersuamikan karyawan. Otomatis tiap bulan bergaji dong! Apalagi kalau yang sedang banyak lemburan, bisa dari pagi sampai tengah malam baru pulang. Sehingga perkiraan saya gaji suami mereka jauh di atas penghasilan karyawan biasa.

Terus kenapa harus ngomel saat istri menyenangkan diri mereka sendiri dengan membeli barang yang mereka sukai sesekali?

Duhai suami, tidakkah kalian tahu betapa bosannya para istri ditinggal dari pagi hingga larut malam. Belum lagi weekend yang jarang jadi momen kebersamaan karena alasan lembur.

Betul, itu dilakukan agar anak dan istri tercukupi kebutuhannya. Namun jika banyak uang tapi tak sempat dinikmati, sama saja bohong bukan? Jadi, sebagai kompensasi sudah sepantasnya suami tak perlu komplen saat istri menyenangkan dirinya. Toh, cuma sesekali, gak tiap hari.
 
Saya pernah mengutarakan hal ini pada suami. Apakah ia keberatan dengan apa yang telah saya lakukan. Sebab ada waktu tertentu saya begitu banyak menguras uangnya untuk berbelanja keperluan saya pribadi, entah beli baju, buku, ikut seminar, workshop dsb. Membuat diri ini merasa bersalah dan tak enak hati. Takut dianggap istri yang tak pandai menjaga harta suami.

Tapi, jawaban suami sungguh di luar dugaan. Terdengar sangat keren di telinga saya. 
 
"Lah, Ayah kerja keras buat apa, dong? Kalau gak ada yang ngabisin?"

Waahhh, kayaknya ada yang nantangin belanja nih, hehehe...

Hegas, 12 Februari 2015
 
Foto: google image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik