Rama dan Sinta, Teladan Cinta yang Salah

Seperti cinta antara Sinta dan Rama. Sering kita mendengar atau membaca perumpamaan kisah kasih yang menyebut dua tokoh ini sebagai simbol cinta sejati. Televisi Indonesia entah kenapa, akhir-akhir ini booming dengan cerita-cerita legenda dari negeri India. Membuat saya terpikir untuk mengulas ketidak setujuan pernyataan di atas.

Yup, jika dinilai dari kekuatan cinta yang besar dari cerita kedua anak manusia yang termaktub dalam
kitab karangan Resi Walmiki ini, mungkin memang tak salah. Tapi bila ditelisik jauh hingga bagian ending, rasanya cerita Rama dan Sinta tak layak dijadikan panutan atau teladan bagi mereka yang ingin dan sedang menemukan cinta sejati.

Kata orang, cinta menuntut kepercayaan. Jika percaya tak ada, setebal apapun kekuatan tembok yang menaungi cinta, akan hancur begitu saja digoyang ketidakyakinan baik dari satu atau kedua pasangan. Dan saya sudah menyaksikan, betapa satu rumah tangga hancur karena tak mampu mempercayai ucapan pasangannya sendiri.

Begitu juga yang terjadi dalam kisah Rama dan Shinta. Cinta yang besar tak cukup membuat hati Rama yakin sepenuhnya akan kesetiaan Shinta. Membuat rentetan ketidakpercayaan itu yang akhirnya memaksa Shinta pergi meninggalkan dirinya. Pedih memang jika cinta terlanjur ditabur di atas benih kesangsian!

Jadi menurut saya, Shinta dan Rama adalah teladan cinta yang salah!

CikPus, Desember 2014




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik