Putri Akik

Sudah beberapa hari saya menemukan bongkahan batu besar dan kecil dalam kresek. Bukan! Bukan batu berharga yang siap diolah jadi batu cincin. Ini batu yang lain.


Sebelumnya saya sudah sharing betapa suami sudah jadi gems hunter alias pemburu batu untuk
dibuat cincin. Ternyata tak cukup sampai di situ dampaknya. Hobi suami mengumpulkan batu berharga ternyata menular pada putri saya.

Bedanya jika suami mengumpulkan batu mentah berharga, putri saya, Nayla, mengumpulkan bongkahan batu yang ia temukan di pinggir jalan. Beuuh...

Batu-batu itu ia kumpulkan lalu disenter dan digosok serta diamplas persis seperti yang biasa dilakukan ayahnya.

"Itu bukan batu berharga, Neng!"

"Ih, Bunda gak percaya! Ini bisa dibikin batu cincin buat Teteh!"

"Iya, emang sama-sama batu namanya. Cuma yang Teteh pungut itu bukan batu berharga. Itu batu biasa."

"Bunda mah, ngeremehin Teteh! Ini kalau digosok terus bisa jadi batu cincin, Bun!" Halah, bahasamu, Nay...Nay!

"Batu berharga kayak yang digosok Ayah itu ngambilnya gak di jalan, tapi adanya di gua-gua kayak di Kalimantan gitu atau bisa juga di sungai-sungai yang pernah dilewati lahar berisi batuan dari perut bumi."

Ia terdiam mendengar penjelasan saya. Lalu sesaat kemudian matanya berbinar penuh semangat.

"Di sini ada gua gak, Bun? Kita cari yuk?"

Saya memijit kepala yang tiba-tiba pening. Susah ya, bicara dengan anak kecil?

CikPus, 01 Feb 2015

foto: mbah google

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik