Jangan Lihat Bajunya!

Siang itu antrian di Bank Mandiri begitu panjang. Kebetulan kantor tersebut berada di ruko yang terkenal dengan perumahan elitnya.

Saya berada di antrian jalur tengah. Berpakaian rapi jali, tak kalah modis dengan Mbak-mbak yang melayani nasabah di belakang meja teller.

Hari itu saya berniat menabung. Tak sampai 5 juta rupiah yang saya bawa, tapi entah kenapa
membuat saya begitu pede. Mungkin karena itu uang hasil keringat sendiri, jadi ada perasaan bangga karena berhasil menyisihkan pendapatan di tengah bujukan hedonis kota Lippo Cikarang.

Hampir setiap gajian, yang terjadi tiap tanggal 10 dan 25, saya habiskan dengan jalan, belanja baju, nonton, dan makan-makan bersama teman. Jadi adalah prestasi tersendiri jika saya yang masih 20-an waktu itu bisa menabung di bank.

Antrian masih empat orang di depan. Iseng saya mengedarkan pandangan ke sekitar. Satpam yang selalu tersenyum namun waspada, TV berlayar besar yang menyala entah menayangkan apa, gambarnya kadang renyek. Nasabah yang sebagian berwajah tak sabar. Ada yang melihat jam berkali-kali, mengetuk-ngetukkan kaki, ada juga yang bosan menekuri ujung sepatunya.

Jaman itu belum ada media sosial, jadi tak ada pemandangan orang-orang yang tenggelam melototi gadget di tangan.

Di antrian sebelah saya, ada seorang ibu tua berpakaian lusuh. Menenteng tas kain beserta balita yang masih digendong. Saya meneliti tubuhnya dari atas ke bawah. Bank sebagus ini bagaimana mungkin memiliki nasabah sekumal dia. Sangat kontras dengan pemandangan sekitarnya, di mana yang antri di sini adalah lelaki parlente dan wanita bergaya dalam penampilan.

Saya kembali mengecek jumlah uang di tas. Masih utuh 3,5 juta rupiah, sambil melirik kanan-kiri. Takut ada pencopet di sini. Dua antrian lagi giliran saya.

Iseng saya kembali melayangkan pandangan pada ibu tua tadi. Apa yang hendak dilakukannya di sini? Meminjam uangkah? Hm, dengan tampilan begitu mana mau pihak bank memberikan pinjaman. Sangat tidak meyakinkan.

Hingga akhirnya tiba gilirannya berada di meja teller. Apa yang saya lihat benar-benar membuat mata terbelalak. Ibu lusuh itu mengeluarkan bergepok-gepok uang dari tas kainnya dan ditaruh di meja. Disambut senyuman sumringah Mbak teller yang ramah.

Saya melongo, hingga tak bisa berkata apapun. Ibu lusuh itu bagaimana ia bisa punya uang sebanyak itu? Saat sedang ngobrol dengan teller saya berusaha mencuri dengar. Sayang, giliran saya tiba, sehingga perhatian saya teralihkan.

Saat transaksi saya sudah selesai, ibu lusuh itu masih setia menunggu petugas yang sibuk menghitung keseluruhan uangnya. Entah berapa puluh atau ratus juta total uang yang ia setorkan.

Saya menatap ibu kumal dan balita di gendongannya. Lalu beralih ke buku tabungan yang saya pegang. Betapa saya malu hati. Petantang-petenteng bawa duit 3,5 juta rupiah. Merasa sudah paling kaya sedunia. Sempat memandang sinis dan sebelah mata pada ibu kumal tadi. Yang ternyata harta yang ia punya lebih banyak dari saya. Astaghfirullahal 'adzhim!


C521, 01 Januari 2015

Foto: Google image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik