Gara-gara Olla Ramlan





Bayi merah itu menggeliat dalam dekapan perawat. Meski tak terlalu montok, tapi ia terlihat menggemaskan. Dengan sigap, Bu Bidan menaruh makhluk mungil nan tampan itu di dada saya yang terbuka.

Pertama ia terdiam. Mungkin sedang menikmati hangat tubuh dan bau keringat ibunya. Lalu perlahan
mulut mungil itu mulai merayap mencari-cari sesuatu.

"Tak apa, biarkan saja. Tak perlu dibantu, ya!" Bu Bidan memerintah dengan lembut.

"Tapi ASI-nya belum keluar, Bu!" Saya menatap cemas pada wanita berusia di atas 50-an itu. Mengkhawatirkan si mungil yang nampak tak sabar menemukan puting susu ibunya.

Lalu seperti mendapat kekuatan, si merah tampan mulai menggerak-gerakkan mulutnya bersiap mencucup. Sekarang, giliran saya yang tak sabar. Saat bidan lengah, saya angkat sedikit bokongnya dengan lengan kanan.

Dan...hap! Akhirnya ia berhasil. Anehnya, dalam beberapa kali isapan, ASI yang sedianya masih kosong sebab belum produksi tiba-tiba mengalir deras!

Belum puas, ia masih nampak ingin terus disusui. Saya pindahkan ia ke dada kiri. Dengan bernafsu, bayi mungil itu kembali menikmati 'temuannya' dengan isapan kelaparan.

Tak terkira kebahagiaan saya. Niat untuk memberikan ASI eksklusif sepertinya bakal berhasil. Sebab ia tak tersentuh susu formula sejak terlahir ke dunia. Tak henti saya memeluk dan menciuminya.

Hingga sebuah guncangan lembut di bahu saat Shubuh tiba menyadarkan saya. Bahwa semua adegan indah di atas ternyata hanya mimpi belaka. Padahal sensasinya begitu nyata. Saya masih mengingat jelas rupa bayinya, baunya, sentuhan kulitnya dan tentu saja isapan dahsyatnya tadi. Saya sempat menangis sekejap. Rindu ini akan kehadiran buah hati, benar-benar menyayat!

Ini pasti gara-gara ulah Olla Ramlan kemarin di TV. Selewat saya sempat menyaksikan adegan pasutri itu melakukan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Membuat keinginan saya untuk punya momongan membara kembali!

Semoga Allah selalu menetapkan hati saya untuk berhusnuzhon dengan ketidakhadiran amanah-Nya! Mungkin rejeki itu datang tidak berupa kehadiran bayi, tapi dianugerahkan dalam bentuk kelapangan rejeki materi, kelancaran usaha dan pekerjaan, serta kesehatan kami selama ini.

Ya, Allah lebih tahu yang terbaik untuk saya dan suami.

Hegar Asri, 21 Januari 2015

foto: google image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik