Editor Klenger

Beberapa waktu lalu saya diamanahkan untuk melakukan editing pada naskah anggota Pramuda FLP Bekasi yang wajib memiliki buku antologi sebagai syarat inagurasi.

Saya belum terlalu lihai dalam edit-mengedit. Setumpuk buku tebal mulai dari tesaurus bahasa Indonesia, petunjuk EYD serta buku penunjang lain berserak di sekitar saya. Hm, tulisan sendiri saja masih awut-awutan, malah dapat jatah mengedit naskah orang lain! Duh, jadi malu diri ini, hihihi...

Ternyata benar! Pekerjaan editor itu tak gampang. Baru beberapa halaman mata saya sudah
berkunang-kunang. Belum sarapan sudah melahap rangkaian kalimat dalam jumlah lebih dari 100 halaman! Selain EYD yang perlu diperbaiki, struktur kalimat serta diksi yang aneh dan salah tempat juga lumayan menggelitik perut.

Sampai di sini saya merasa sangat bersyukur menjadi anggota KBM (Komunitas Bisa Menulis), jauh sebelum memutuskan bergabung di FLP Bekasi. Sebab dari KBM-lah, teknik menulis yang semula sangat-sangat berantakan lumayan jadi termaafkan, hehehe...

Selain itu, saya juga merasakan kebenaran kata-kata Pak Isa Alamsyah, bahwa dengan mengkritik karya di wall KBM, sama artinya kita melempar bola yang nanti bakal kembali pada diri sendiri. Karena terbiasa memberi saran, kritik dan masukan pada karya teman-teman, saya jadi aware dengan tulisan sendiri. Sebelum memposting karya baik di wall KBM, di blog maupun naskah fiksi dan nonfiksi lainnya, saya jadi benar-benar berusaha untuk mempersembahkan tulisan terbaik yang saya bisa.

Jadi editor abal-abal saja saya sudah klenger, bagaimana kalau sungguhan ya?

CikPus, Januari 2015

foto: google image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik